BANGKITLAH JIWA LUHUR

Mei 22, 2009 at 1:18 am 5 komentar

Sulit melihat ‘indonesia’ di layar televisi pada hari kebangkitan nasional ini. Semua stasiun televisi menampilkan wajah-wajah bule (indo) dalam setiap sinetron dan ‘infotaintmen’-nya. Kalau ada sedikit variasi, diselingi wajah-wajah oriental. Bahkan ada acara televisi yang dipandu oleh orang yang benar-benar bule, yang amat cadel jika bicara bahasa Indonesia.

Di televisi, Indonesia merupakan pasar internasional. Negeri ini hanya diwakili oleh ‘konsumennya’. Bahkan ada acara, tetap dengan laki-laki indo sebagai pemeran utamanya, memainkan sinetron yang nyontek habis film India: atribut India, budaya India, dan mungkin sengaja membidik penggemar film India.

Bangkit bisa dimaknai sebagai proses penguatan menjadi diri sendiri. Jika yang berkembang di negeri ini adalah seperti apa yang ditampilkan di layar televisi, yang cenderung menunjukkan sebuah proses penguatan untuk menjadi ‘mereka’, di manakah potensi kebangkitan itu bisa ditemui?

Tiba-tiba teringat pada sebuah berita televisi. Amstrong, seorang pekerja kantoran di New York. Suatu hari ia lihat seekor itik bersarang di dekat jendela lantai dua, tepat di atas ruang kerjanya.

Dalam beberapa minggu itik itu telah menjadi icon terbaik dalam hidupnya. Ia nikmati bagaimana itik itu membuat sarang. Membawa serpihan kertas yang amat sulit ia jumpai di sana.

Kemudian ia perhatikan setiap hari itik betina itu mendekam di sarangnya. Tak lama kemudian ia terbang jauh.

“Itik itu sedang bertelur,” katanya. Tiap hari ia perhatikan perilaku itik itu. Sampai suatu hari sang itik pujaannya itu mendekam lebih lama dalam sarangnya.

“Ia telah mengeram. Dan kalau tidak salah, ia erami dua belas telur.” Amstrong coba cari tahu, berapa lama itik mengerami telurnya. Itu menjadi informasi yang teramat penting baginya, karena ia mengkhawatirkan nasib anak itik itu setelah mereka menetas. Bagaimana induk itik memandu dan menggiring anak-anaknya ke tempat yang banyak air.

“Pasti akan dibawanya ke tepi sungai,” pikirnya suatu hari. Dan itu berarti harus menyeberang jalan, berjalan satu blok dan melompat ke sungai.

Tapi untuk bisa lakukan semua itu, anak-anak harus melakukan tindakan heroik. Lompat dari lantai dua, terjun ke atas trotoar. “Itu akan membuat anak itik cedera,” pikir Amstrong sungguh-sungguh.

Mempertimbangkan hal itu, mendekati masa penetasan, Amstrong selalu membawa sebuah kardus. “Untuk wadah anak itik,” katanya.

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Bunyi anak itik menciap kian riuh, pertanda semua telur itik telah menetas. Kini ia siap-siap untuk menangkap, apabila anak itu benar-benar melompat ke atas trotoar.

Dugaan itu pun ternyata benar. Anak itik melompat satu-satu, dan Amstrong menangkapnya dengan cekatan. Setiap kali tertangkap, anak itik dimasukkannya ke dalam kardus. Semua ada dua-belas ekor!

Induk itik mengawasinya dengan heran. Tapi mestinya ia bahagia, karena melihat anaknya telah melompat dengan selamat. Cuma ia heran, sebab anak-anaknya itu semua ada di dalam kardus. “Orang jahat atau orang baikkah laki-laki itu?” begitu pikir induk itik.

Amstrong memanggil induk itik menggunakan bahasa isyarat. “Lompatlah, lompatlah, aku akan menangkapmu. Dan bimbinglah anak-anakmu ke sungai!” begitu kira-kira.

Sungguh, induk itik itu melompat ke dekat kardus yang menampung anak-anaknya. Amstrong mengeluarkan anak itu satu per satu dengan penuh kasih sayang.

Sejenak kemudian, induk itik menuntut anaknya menyeberang jalan. Amstrong meminta pengendara berhenti sejenak. Orang-orang bersimpati, membuat barisan pagar betis untuk menjaga agar rombongan itik itu sampai ke seberang.

Prosesi itik itu menjadi tontotan luar biasa di tengah hiruk pikuk New York. Ajaibnya, induk itik berhasil memandu anak-anaknya ke sungai. Dan mereka hidup lepas di alam bebas.

Di sana, Amstrong telah menunjukkan sebuah keluhuran budi. Diikuti oleh orang-orang yang membantu menyeberangkan rombongan itik. Juga sopir-sopir yang sabar dan takzim, menghormati rombongan keluarga itik menyeberang jalan.

Agaknya, jika negeri ini ingin bangkit, maka harus dibangkitkalah jiwa dalam setiap dada bangsa Indonesia. Sebuah jiwa luhur. Seperti milik Amstrong. [Djuhendi Tadjudin].

Entry filed under: Inspirasi, Opini, Perubahan. Tags: , , , , , , .

KUSAM DI GERBANG DUNIA TERI MEDAN

5 Komentar Add your own

  • 1. Uus Kadarusman  |  Mei 25, 2009 pukul 9:42 am

    hmmmmmm…… pertanyaannya dari mana kita mulai? kita tunggu para pembesar memberi contoh? terlalu lama…. sebaiknya mulai dari diri kita….yukkk..

    Balas
  • 2. Renny Amelia  |  Juli 16, 2009 pukul 8:44 am

    yupz..setuju!!
    Mulai dari diri sendiri
    Mulai dari hal yang kecil
    Mulailah saat ini
    SEMANGAAT!!!

    Balas
  • 4. danial indra  |  September 17, 2009 pukul 10:14 pm

    kayaknya kita harus mulai dari bottom ground kang lalu merayap perlahan kketingkat berikutnya tapi yang harus kita capai bukan puncak piramide tapi dasar dari piramide

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Mei 2009
S S R K J S M
« Apr   Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: