ROBOHNYA MODAL SOSIAL

September 25, 2009 at 6:42 pm 5 komentar

Pemuda yang tergabung dalam Karang Taruna Desa Mijen, sebuah desa di Kudus Jawa Tengah, berdemonstrasi. Mereka gelar spanduk dan berorasi berisi penolakan rencana keluarga Urwah yang akan memakamkan Urwah di desanya. Para demonstran tidak sudi desanya dijadikan pemakaman teroris.

Mari kita berangkat dari situasi tanpa prasangka. Artinya, kita memahami bahwa stigma teroris itu sebuah fakta yuridis; demonstrasi itu juga sebuah reaksi tulus yang terbit dari hati nurani para pemuda, tidak ada unsur rekayasa. Maka peristiwa itu akan menjadi monumen peristiwa agama dan sekaligus peristiwa sosial.

Dalam perspektif agama Islam, agama yang dipeluk oleh Urwah dan bolehjadi para pemuda Karang Taruna itu, setiap kejahatan itu ada balasnya. Ada sebuah qishash, jika mereka paham apa itu? Yaitu sebuah hukum syariah yang menetapkan bahwa pelaku kejahatan itu itu harus dihukum setimpal dengan derajat kejahatannya. Mata dibayar dengan mata, nyawa dibayar nyawa.

Namun karena Indonesia itu negara sekuler, maka kejahatan syariah itu, tentu saja hanya bisa dihukum secara hukum negara belaka. Mati tertembak dalam sebuah penggerebekan teroris, tentu saja, harus dimaknai sebagai sebuah rangkaian penegakan hukum. Matinya itu, dapat pula dipahami sebagai sebuah qishash. Dalam perspektif itu, maka telah tunailah pembayaran hukuman kepadanya.

Kini urusan telah berubah. Stigma teroris mestinya sudah pupus sejalan dengan matinya teroris. Matinya teroris merupakan hukuman atas perilakunya, dan sekaligus membawa serta segala atribut perbuatannya.

Ketika mayatnya telah terbujur kaku, masihkan manusia punya hak untuk menakar-nakar derajatnya? Oh yang itu mayat pahlawan, karena itu patut diberi bunga dan minyak pengharum. Sedangkan yang ini mayat pencoleng, karena itu mayatnya hanya patut untuk dicabik-cabik, jika perlu dicabik-cabik oleh komodo.

Agaknya tidak seperti itu. Ketika seorang muslim meninggal dunia, yang tertinggal adalah sesosok jenazah. Segala atribut yang melekat pada jenazah itu sungguh telah sirna.

Jadi, yang akan tiba di Desa Mijen itu bukan lagi mayat seorang teroris. Bukankah penegakan hukum itu bukan sebuah pembalasan dendam, sehingga dendam itu tidak perlu ditanamkan dalam-dalam ke dalam hati masyarakat?

Yang datang dalam keranda, mungkin juga dalam peti tertutup, adalah jenazah seorang muslim dari sebuah kampung tertentu. Hukum syariah yang berlaku atasnya adalah “masyarakat wajib memulasaranya secara syariah”, mulai dari memandikan sampai memakamkannya. Hukumnya adalah fardlu kifayah. Jika satu desa bersekongkol untuk menolak jenazahnya, sama saja dengan menolak hukum yang diturunkan Allah bagi seluruh muslim.

Penolakan bisa punya perspektif Tauhid. Sebuah cermin telanjang yang menunjukkan ketakaburan manusia, ketakaburan orang-orang Islam yang ‘merasa lebih suci’. Karena di situ, tanpa dibekali hak yang jelas, orang-orang telah menjadikan dirinya sebagai Hakim Agung. Sebuah peran yang hanya patut diduduki oleh Allah.

Ini merupakan tugas para ulama setempat, untuk memberikan penjelasan yang patut secara syariah kepada warganya yang telah bertindak berlebihan. Sikap seperti itulah yang sungguh-sungguh telah mengoyak sendi-sendi keislaman. Apa beda mereka dengan teroris yang mereka hujat?

Dari perspektif sosial, peristiwa itu telah menunjukkan sebuah bangunan rapuh yang mudah terkoyak. Betapa modal-sosial masyarakat, setia kawan dan toleransi sosial, begitu mudah tercabik ‘hanya’ oleh sebuah fenomena hukum positif. Peristiwa sejenis juga kerap kita jumpai, pemuda sedesa beradu fisik, misal, hanya karena berbeda paham politiknya, hanya karena berbeda kepala desa dukungannya.

Dan jika para negarawan waspada, mereka akan tahu, kerapuhan itu bukan hanya milik pemuda Mijen. Tapi sudah bisa dijumpai amat merata di seluruh pelosok negeri ini. Sayangnya, petinggi dan politisi malah kerap berperan sebagai juru kipas. Semoga tidak malah menjadi provokatornya. [Djuhendi Tadjudin]

Entry filed under: Opini. Tags: , , , , , .

NEGERI TEROR PANGGIL AKU MUKHTAR

5 Komentar Add your own

  • 1. Agus Suhanto  |  Oktober 1, 2009 pukul 5:22 am

    thanks o atas postingnya yang bagus… kenalkan sy Agus Suhanto

    Balas
    • 2. Djuhendi Tadjudin  |  Oktober 1, 2009 pukul 10:20 am

      Terimakasih telah berkunjung dan kenalan. Mari kita saling kontak!

      Balas
  • 3. Joko Waluyo  |  Februari 7, 2010 pukul 4:45 pm

    Wah udah lama gak nulis ya pak? Ditunggu tulisan-tulisannya….

    Balas
    • 4. Djuhendi Tadjudin  |  Februari 15, 2010 pukul 10:06 pm

      Ya Mas. Mulai minggu ini akan muncul, sekurang-kurangnya satu per minggu deh. Insyaallah

      Balas
  • 5. saji fathurrohman  |  November 14, 2011 pukul 2:50 pm

    mantap, Pak tulisannya semoga terus menginspirasi,penulis2 baru.
    seperti saya sedang belajar (Sadji)

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

September 2009
S S R K J S M
« Jul   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: