SYUKUR

Mei 15, 2009 at 6:39 pm Tinggalkan komentar

Dua orang saudara-kandung, Aman dan Amin, berdagang es-sirup-pala di pasar Warungkondang, Cianjur. Es itu hasil racikan ibu kandungnya. Es, sirup, dan parutan daging buah pala ditempatkan dalam toples. Disusun di atas gerobak dorong bikinan bapaknya. Bentuk dan warnanya sama persis.

Mereka jualan di pinggir jalan di depan pasar. Keduanya mangkal berdekatan, berjarak tidak lebih dari lima meter. Karena itu, mereka bisa saling melihat butiran keringat di kening saudaranya.

Jam sepuluh pagi mulai ada pembeli di tempat Aman. Makin siang makin banyak. Barangkali karena banyak orang yang ingin melepas dahaga. Dan pada jam satu siang, dagangan Aman sudah ludes.

Sementara itu dagangan Amin hanya laku seperempatnya. Lantas Aman mengambil inisiatif. Sebagian es, sirup, dan pala milik Amin dituangkannya ke dalam toples miliknya. Tapi sampai jam dua lebih, tidak ada lagi pembelinya. Maka keduanya memutuskan untuk pulang.

Ibunya sudah menunggu. Menyambut kedatangan dua puteranya dengan sorot mata penuh kasih. Meski tidak berlebihan, tampak sorot kegembiraan di mata
Aman. Sebaliknya Amin tampak amat kuyu. Rahangnya terkatup rapat, menahan air mata agar tidak jatuh menitik.

Aman berbisik kepada ibunya. Kemudian ibunya menghampiri Amin, mengusap kepalanya seraya berkatan: “Yang sabar, ya Amin.” Ditepuknya juga bahu Aman sambil berbisik, “Bersyukurlah.”

Lepas sholat isya’, ibu-bapak dan kedua anaknya duduk-duduk di beranda sambil minum the. “Aku bangga kepada kalian berdua, anakku,” kata bapak. Kemudian mereka terlibat obrolan yang amat intim, membahas pengalaman hari pertama berdagang.

“Di mata bapak, kalian itu anak yang amat berharga. Kalian adalah pejuang yang tak sudi meminta-minta. Dan bapak akan lebih bangga jika kalian tetap selalu ingat Allah.” Lantar meluncurlah cerita tentang akhlak yang baik panjang-lebar.

“Tapi kalian harus mengerti, ‘laku’ dan ‘tidak laku’ itu cuma bahasa manusia. Kita katakan itu ‘nasib baik’ dan ‘nasib buruk’. Padahal di mata Allah, keduanya adalah yang terbaik bagi kalian.”

Suasana menjadi hening. Sang Ibu menuangkan air teh ke dalam gelas Sang Bapak. Kemudian disodorkannya rebusan singkong dan potongan-potongan gula aren. Lantas duduk di sebelah suaminya.

“Kita harus mengevaluasi diri dan menilai peristiwa yang telah kita alami. Pahami kenapa dagangan Aman laku dan dagangan Amin kurang laku. Padahal kalian berjualan barang yang sama, di tempat sama, dan pada waktu yang sama pula. “

“Maka kita tidak punya pilihan selain bersyukur. Bayangkan jika terjadi sebaliknya. Kita tidak pernah tahu akibatnya. Jika dagangan Aman tidak laku, mungkin dia akan patah semangat yang amat parah. Jika daganan Amin yang laku keras, mungkin akan menjadikannya takabur. Dan kita mungkin tidak duduk bersilaturahim di beranda seperti sekarang ini.”

Ada keheningan sejenak. Dengan nada getir, Amin bertanya: “Tapi kenapa Allah kasih perlakuan yang berbeda kepada kami?”

Sang Bapak menarik nafas panjang. “Itu rahasia Allah,” katanya lembut, “…dan untuk rahasiaNya itu kita harus berdoa, berjuang, dan bersyukur.” Jalankan usaha kita dengan hebat, dan amati rahasia Allah yang dibukaNya sedikit demi sedikit.

Malam pun kian hening. Angin dingin mengusap keluarga bersahaja yang penuh syukur. [Djuhendi Tadjudin].

Entry filed under: Renungan. Tags: , , , .

TEROWONGAN ASAP BUAH DURIAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Mei 2009
S S R K J S M
« Apr   Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: