TEROWONGAN ASAP

Mei 12, 2009 at 11:22 am 2 komentar

Bepergian menggunakan pesawat terbang menjanjikan pelbagai keunggulan. Antara lain bisa lekas tiba di tempat tujuan dan lebih nyaman. Bandingkan dengan bepergian menggunakan bus ekonomi.

Tapi kini, semua itu bisa menjadi sebuah janji kosong. Coba saja bepergian melalui bandara Sukarno-Hatta, terutama yang lewat Bandara 1a.

Ketidak-nyamanan sudah dimulai dari antri untuk memasuki ruang check-in. Penumpang berjubel, antrian merayap pelan. Di depan meja check-in kita perlu mengantri dalam barisan yang mengular. Karena petugas bekerja teramat lamban, maka laju ular-antrian pun tertatih-tatih. Antrian kesepuluh bisa menghabiskan waktu lebih dari setengah jam.

Lepas dari antrian di meja check-in, telah menunggu horor yang lain di lantai dua. Setelah memasuki pintu pemeriksaan terakhir, kita akan memasuki aula panjang. Di sini mulai semerbak aroma aneka rokok.

Di kiri-kanan aula terdapat bangunan silinder dengan diameter sekitar tiga-meter. Itu tempat para perokok dapat menunaikan hasrat merokoknya. Meski di bagian atapnya dilengkapi dengan kipas penyedot yang cukup kuat, lembaran-lembaran asap tipis masih menyelinap ke luar ruangan. Menyebar aroma rokok yang cukup kuat. Apalagi masih ada dua tiga calon penumpang, yang tega merokok di aula yang sesungguhnya bebas rokok.

Memasuki ruang-tunggu bolehjadi menjadi pertunjukan peradaban yang amat buruk. Antara aula dengan ruang-tunggu, dihubungkan selasar berkaca tanpa ventilasi.

Meski tergolong ruangan ‘dilarang merokok’, tapi selasar ini menjadi sorga bagi para perokok. Di sini, mereka berderet di kiri dan kanan selasar. Tidak ada sesenti pun ruang kosong di sini. Semuanya merokok.

Asap tebal menggulung. Berputar-putar karena gagal mencari jalan keluar. Kian lama asap di dalam selasar itu kian pekat. Mirip dengan asap dalam ruang yang kebakaran.

Bagi bukan perokok, melintasi selasar itu sungguh merupakan neraka. Selasar itu cukup panjang. Karena itu, mustahil melintasinya dengan menaham nafas. Jadi, terpaksa harus mengijinkan asap-asap rokok pekat itu terhisap masuk paru-paru.

Meski tidak anti perokok, sesungguhnya sudah pada tempatnya jika ada penegak hukum yang melarang orang-orang untuk tidak merokok di ruang-ruang publik. Atau, sekurang-kurangnya di ruang-ruang bertanda ‘dilarang merokok’. Pada saat yang sama, sediakan ruang-ruang merokok lebih banyak. Mungkin tidak cukup enam unit bangunan silinder, tapi barangkali dua ruang besar di setiap sisi aula, agar bisa menampung seluruh perokok yang menunggu boarding.

Jika tidak bisa melakukan hal itu, ada baiknya untuk mencopot tanda-tanda “di larang merokok” yang bertebaran di aula, selasar, dan ruang tunggu. Bagus pula jika peraturan pemerintah tentang pelarangan merokok di ruang publik pun dicabut.

Biarkan saja bandara, dan tempat publik lainnya seperti sebuah pasar malam. Siapa pun boleh melakukan apa pun. Suka-suka mereka. Bukankah merokok sambil menonton komidi-putar itu juga sebuah hiburan? [Djuhendi Tadjudin].

Entry filed under: Opini. Tags: , , , , .

KEMITRAAN PENGOLAHAN DAN PEMASARAN HASIL PERIKANAN SYUKUR

2 Komentar Add your own

  • 1. Uus Kadarusman  |  Mei 20, 2009 pukul 7:49 am

    kesengat nih hehehe…

    Balas
    • 2. Djuhendi Tadjudin  |  Mei 20, 2009 pukul 9:51 am

      Sungguh saya tidak bermaksud menyengat. Tapi saya sendiri ‘tersengat’ melihat kenyataan itu.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Mei 2009
S S R K J S M
« Apr   Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: