PELECEHAN AKAL AWAM

Mei 10, 2009 at 12:14 am Tinggalkan komentar

Pembunuhan Nasrudin, dilakukan oleh seorang pembunuh profesional. Ditembak dua tembakan, yang salah-satunya tepat mengenai batang otak. Antasari Azhar, Ketua KPK ketika itu, dikaitkan dengannya. Didakwa sebagai pemberi perintah pembunuhan. Konon penyebabnya adalah cinta segitiga.

Apakah benar seperti adanya? Apakah otak Antasari Azhar itu lebih kecil ketimbang libidonya? Apakah kasus itu bebas dari skenario lain yang lebih besar?

Sebagai warga negara, yang tidak punya kompetensi dalam bidang hukum, saya sungguh cukup diam saja. Bukan diam karena a politik. Tapi karena percaya seratus persen kepada aparat penegak hukum yang mengurus kasus itu sampai tuntas. Segala hak dan kewajiban saya sebagai warga-negara, telah ‘dimandatkan’ kepada mereka. Jadi, tutup-mulut dan tidur nyenyak sudah bermakna “telah menjadi warga negara yang baik.”

Namun demikian, dalam proses penyidikannya telah timbul berbagai hal yang amat mengusik akal awam. Pertama, penyebab langsung kematian Nasrudin ternyata tidak menjadi pangkal penyidikan, sekurang-kurangnya begitulah yang bisa dibaca pada “ruang publik”. Memang amat bisa dimengerti, ‘nama besar’ Antasari itu pasti bahan yang cocok untuk publisitas siapa pun. Namun demikian, yang lazim dalam sebuah kasus pidana, penyebab langsung kematian selalu ditempatkan sebagai “topik utama”. Karena pihak polisi dengan murah hati telah mempublikasikan proses penyidikan, sebagai penegak hukum sepatutnya menempatkan penyebab-langsung kematian sebagai “topik utama.” Bukankah publikasi itu juga sebagai sebuah edukasi hukum, bahwa pelaku kejahatan itu harus dihukum. Tapi dalam kasus ini, ternyata ada pihak yang merasa perlu untuk menampilkan pengacara eksekutor, dan menyatakan: Mereka “hanya” eksekutor! Dia tampil di televisi, hanya untuk mengabarkan bahwa “melakukan pembunuhan” itu hanyalah sebuah “hanya.”

Kedua, terdapat usaha sistematik untuk melakukan trial by the press. Itu amat bertentangan dengan prinsip praduga tidak bersalah yang menjadi prinsip dalam peradilan negara Indonesia. Artinya, pelaku tindak pidana seberapa pun beratnya belumlah menjadi seorang “yang bersalah”, sampai hakim menyatakan bersalah dalam sebuah peradilan “yang adil”. Di sini trial by the press bergulir amat sistematik. Malah ada pihak yang ‘membocorkan’ foto biasa-biasa saja (yang menurut ahli telematika, telah sedikit dibuang beberapa komponen gambarnya). Foto itu di-reframe sebagai sebuah foto “mesra” (yang dikonotasikan untuk menguatkan ‘dakwaan’ tentang adanya cinta segitiga). Seolah ingin menyampaikan sebuah pesan: Ayolah kawan, ini hanya sebuah perselingkuhan biasa! Tentang trial by the press itu sendiri tidak ada teguran langsung dari penegak hukum.

Ketiga, gencarnya pemberitaan media elektronika, sengaja ataupun tidak, telah membangun sebuah frame, bahwa topik kita dalam pembunuhan itu adalah “cinta segitiga.” Topik lain menjadi tidak penting. Nasrudin pernah sampai lima kali pergi ke KPK, yang mengisyaratkan ada sebuah persoalan penting, tidak pernah dikuak secara serius. Lagi-lagi pendapat ini hanya bersandar pada perspektif “informasi ruang publik.” Rakyat ini tidak bodoh-bodoh amat, sehingga di warung kopi sekali pun bisa muncul pendapat: “Kutu busuk sesungguhnya bukanlah cinta segitiga. Meski orang bisa berbuat bodoh, namun tidak sebodoh itu.”

Di sini, saya sebagai warga-negara merasa perlu untuk menyampaikan penghargaan sebesar-besaranya kepada penegak hukum. Mereka telah amat sigap membekuk pelaku dan menyajikan mosaik persoalan kepada publik. Malah lebih sempurna dari sebuah mosaik. Publik kini tidak lagi melihat mosaik, melainkan gambar hidup “Antasari yang bodoh telah bunuh Nasarudin yang malang hanya karena libido.”

Namun tugas penegak hukum bukan cuma itu. Yang paling hakiki adalah memberikan edukasi hukum kepada warga negara. Pada saat yang sama, memberikan rasa aman. Jangan biarkan warga-negara hidup dalam ketakutan karena sebuah pesan: “Seorang mantan debt collector itu ‘hanya’ seorang pembunuh!” Ya Allah! [Djuhendi Tadjudin].

Entry filed under: Opini. Tags: , , , .

ALIH FUNGSI LAHAN SAWAH KEMITRAAN PENGOLAHAN DAN PEMASARAN HASIL PERIKANAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Mei 2009
S S R K J S M
« Apr   Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: