ALIH FUNGSI LAHAN SAWAH

Mei 9, 2009 at 4:41 pm Tinggalkan komentar

Pangan identik dengan padi. Padi identik sawah. Tidak berlebihan bila lahan sawah diidentikkan dengan sentra produksi pangan.

Sentra itu, kini sedang menghadapi ancaman serius. Jawa Barat, misalnya, setiap tahun kehilangan sawah seluas 4,000 ha. Ia berubah fungsi menjadi permukiman dan kawasan industri.

Persawahan di Rancaekek membentang dari Gunung Geulis di utara sampai dengan bantaran Citarum di selatan. Bersama Cileunyi dan Gedebage, daerah itu pernah dikenal sebagai sentra padi di Jawa Barat, seperti halnya Karawang dan Subang.

Kini daerah itu telah menjadi daerah permukiman, perniagaan, dan industri. Di beberapa tempat malah tidak tampak ‘jejak-jejak’ bekas areal tani.

Alih fungsi lahan di sana sudah merembet di sepanjang jalan Cicalengka, membentang dari Parakanmuncang sampai Warunghalang. Ke arah tenggara mencapai Desa Ciaro (Kec. Nagreg, Kab. Bandung), Kampung Kepuh di Desa Cigagade (Kec. Limbangan, Kab. Garut); terus ke Sasakbeusi, Lewo, Malangbong, dan malah sampai wilayah Tasikmalaya.

Di pantura Banten dan Jawa Barat terjadi hal serupa. Di sini, alih fungsi terjadi amat intensif. Di mana-mana jaringan irigasi ‘mati’ tanpa meninggalkan ‘bangkai’. Ada juga saluran primer yang masih berfungsi, namun kini bukan untuk memasok air irigasi. Ia telah menjadi pemasok air baku untuk PDAM. Jaringan irigasinya telah runtuh, sejalan dengan menghilangnya sawah-sawah kelas satu.

Proses seperti itu bukan monopoli daerah-daerah yang dekat dengan metropolitan. Ternyata di sebarang daerah pun, pembangunan itu amat ‘buta’ dan rakus lahan. Mereka paling suka mengkonversi lahan sawah, karena lazimnya memiliki nilai lokasional yang amat strategik.

Di Lombok, jaringan irigasi sedang sekarat. Sentra-sentra padi telah beralih fungsi menjadi permukiman, perkotaan, dan industri. Sawah-sawah di daerah Lembar, Lingsar, dan Suranadi sedang menunggu lonceng kematian global. Bahkan “Pusat Agribisnis” –yang menghimpun seluruh dinas dalam lingkup pertanian, dibangun megah di atas lahan sawah terbaik di Pulau Lombok, yaitu di tepi jalan poros menuju ke Narmada.

Pembangunan sektor perumahan, perkotaan, dan industri tampaknya dilakukan tanpa mata, telinga, dan tanpa hati. Sektor swasta dengan rakus melahap lahan-lahan sawah. Pemerintah membiarkannya, dan sampai batas tertentu mungkin malah ikut bertepuk-tangan.

Ketika konversi itu terjadi, tak ada pihak yang mau menahan nafas satu dua jenak. Kemudian memaknai resiko-resiko ‘yang tersembunyi’ di dalamnya.

Dalam setiap bidang tanah itu, terdapat biaya pembangunan waduk dan infrastrukturnya, yang tidak pernah diperhitungkan dalam setiap konversi tanah-tanah sawah. Dalam proses itu, ada sebuah investasi yang hilang; padahal utang buat membangun infrastruktur itu bolehjadi belum lunas terbayar. [Djuhendi Tadjudin].

Entry filed under: Opini. Tags: , , , , .

RAPAT KOORDINASI KKMB RIAU PELECEHAN AKAL AWAM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Mei 2009
S S R K J S M
« Apr   Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: