SISTEM AGRIBISNIS TANPA JIWA

Mei 6, 2009 at 11:25 am Tinggalkan komentar

Kolombia penghasil kulit. Sebagian besar hasilnya diekspor ke Amerika Serikat. Namun di pasar itu, produk kulit Kolombia dihargai lebih rendah ketimbang dari negara lain. Soalnya, mutunya tidak konsisten. Naik turun.

Untuk menelaah akar masalahnya, pemerintah Kolombia menugaskan Monitor Company untuk melakukan kajian mendalam. Kajian dimulai dari New York City dengan mewawancarai 2,000 perusahaan eceran. Kesimpulannya: “Harga tas tangan Kolombia terlalu tinggi dan kualitasnya terlalu rendah.”

Kajian dilanjutkan di Kolombia. Tim mendatangi pabrik kulit. Mereka menjawab: “Itu bukan salah kami, yang salah adalah para penyamak kulit, yang memasok kulit mutu rendah tapi harganya relatif tinggi”.

Penelusuran pun dilanjutkan kepada para penyamak kulit. Namun mereka menjawab: “Ini bukan kesalahan kami,” katanya “…itu kesalahan para petugas pejagalan. Para penjagal itu hanya berfokus pada mutu daging, ada pun kulit hanyalah sebuah sampingan yang tidak berarti.” Karena itu, mereka tidak peduli apakah kulitnya rusak atau tidak.

Dengan berbekal informasi itu, dilakukan wawancara di sebuah campo. Bertemu dengan penggembala, penjagal, dan manajer. “Anda lihat,” kata mereka, “pemilik peternakan sungguh keterlaluan mencap sapi mereka dalam upaya untuk mencegah pencurian.”

Perjalanan tim kajian akhirnya sampai di peternakan di pedesaan yang jauh dari kota. Para pemilik peternakan pun bertutur bahwa itu bukan salah mereka. “Yang salah sapinya. Sapi itu amat bodoh; menggosokkan kulit mereka sendiri pada kawat berduri untuk menggaruk dan mengusir lalat pengisap darah.”

Tim itu telah melakukan sebuah perjalanan panjang, untuk mencari akar masalah “kenapa harga tas dari Kolombia itu tinggi, padahal mutunya biasa-biasa saja.” Kini, berdasarkan wawancara dengan seluruh pelaku bisnis terkait, mereka menemukan kenyataan bahwa “akar masalahnya adalah sapi yang bodoh.”

[Diadaptasi dari tulisan Michael Fairbanks. 2006. Mengubah Pemikiran Sebuah Bangsa: Unsur-unsur dalam Proses Penciptaan Kemakmuran].

Penelusuran Monitor Company dari New York City sampai ke ujung desa di Kolombia, telah menemukan sebuah rantai agribisnis yang paripurna. Dijumpai pengecer tas kulit, pembuat tas kulit, penyamak kulit, penjagal, dan peternak.

Semuanya bekerja mengikuti hukum pasar. Harga yang ditetapkan dalam setiap rantai tataniaga diterima dengan baik oleh para pembelinya. Rantai panjang produksi dan pemasaran tas kulit buatan Kolombia pun berjalan lancar. Meski tidak diceritakan dalam marjinalia di atas, tentu saja, pelaku perbankan pun ada dalam sistem itu. Jadi, dalam infra-struktur itu, telah hadir sebuah sistem agribisnis yang paripurna. Sistem yang menjanjikan kemakmuran.

Tapi kenapa sebuah sistem paripurna ‘cuma’ bisa menghasilkan produk tas bermutu rendah tapi harganya tinggi (sehingga kurang laku di pasaran New York City)? Sebab utamanya karena dalam sistem itu tidak terdapat sebuah ‘jiwa’. Tidak ada spirit. Tidak ada sebuah visi bersama, bahwa di pasar ada dua bahasa yang selalu dipercakapkan: mutu dan harga. Mereka hanya menjalankan roda produksi (dalam sebuah sistem agribisnis yang paripurna) dengan jiwa bagai seorang budak. Tidak ada inisiatif dan gairah untuk berinnovasi. Tidak ada semangat untuk bertanya: Mengapa reaksi pasar tidak kunjung positif?

Itu sebuah pelajaran. Bahwa sistem agribisnis itu necessary but not sufficient. Ia masih membutuhkan sebuah jiwa, sebuah visi kolektif yang jelas dan realistik. Dan sesungguhnya, visi kolektif itulah yang bahkan bisa merekonstruksikan sebuah sistem yang lebih ‘hidup’.

Maka tak perlu terkejut, bila agribisnis di Kolombia itu, ternyata bayangan cermin Indonesia. [Djuhendi Tadjudin]

Entry filed under: Opini, Perubahan. Tags: , , , , , .

BELAJAR SAMBIL PRAKTEK RAPAT KOORDINASI KKMB RIAU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Mei 2009
S S R K J S M
« Apr   Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: