BELAJAR SAMBIL PRAKTEK

Mei 3, 2009 at 1:58 pm Tinggalkan komentar

Huda, bukan nama sebenarnya, anak tuan tanah dari desa Bumiaji, Kota Batu, daerah wisata terkemuka di Malang Raya. Keluarganya punya 5 hektar kebun apel.

Dulu, aset itu merupakan jaminan kemakmuran bagi keluarganya. Dengan apel, masyarakat bisa bangun rumah. Sekarang sebaliknya, banyak yang bangkrut karena apel.

Sebab apel Malang (apel Manalagi maupun Rome Beauty) tidak laku di bagian barat Indonesia. Pasarnya terbatas ke bagian timur Indonesia. Meski masih laku dengan harga relatif tinggi, tapi karena biaya transportasinya juga tinggi, maka harga apel di gerbang kebun sungguh ada di titik nadir.

Huda kerap merenungi nasibnya. Generasinya yang harus menjadi saksi keruntuhan kerajaan apel Malang. Tapi hatinya berontak. Tak mau orang-orang bilang, “Huda itu anak orang kaya.”

Tidak! Itu amat menyakitkan. Pemilik televisi-warna kuno ukuran 14 inchi tak bisa dibilang kaya. Lagipula, ia ingin orang-orang bilang, “Huda itu orang kaya.” Tapi ia masih gagal temukan cara untuk jadi kaya.

Suatu ketika, 2000, seorang sahabatnya berkunjung ke rumahnya. Ia terkejut melihat apel sortiran (berukuran kecil) berserakan di halaman rumahnya. “Mas Huda, berkah sampeyan itu hilang karena apel sortiran itu terbuang percuma.” Ringkas kata, sahabatnya menyarankan agar apel sortiran itu diolahnya menjadi kripik apel.

Huda terkesan dengan prospek yang diceritakan kawannya. Tapi antara terkesan dengan penerapan, terbentang jurang yang dalam.

Ia harus menabung untuk bisa membeli penggorengan vakum. Dibutuhkan waktu dua tahun untuk benar-benar memulai usaha dengan sebuah alat penggorengan vakum.

Dua tahun itu sebuah lompotan budaya. Huda harus berubah, dari seorang pembudidaya apel menjadi seorang industrialis. Itu bukan perkara mudah. Butuh keputusan seorang pemimpin dan keberanian seorang pemenang.

Dalam waktu tiga tahun, Sang Sahabat –yang adalah pemilik kios penjual oleh-oleh, kerap menjemput barang, jika ia terlambat mengirim. Ia juga kerap menegurnya jika mutu produknya tidak stabil. “Hati-hati Mas Huda, konsumen itu kejam. Jika sekali saja mereka pernah dikecewakan, maka mereka akan hukum kita selamanya.”

Sejak tahun 2005, Huda sudah benar-benar memiliki kecakapan dan budaya seorang industrialis. Ia tahu persis, apel seperti apa yang cocok untuk dijadikan kripik. Juga tahu, berapa banyak yang harus disimpan di gudang persediaan, dan berapa yang harus dilempar ke pasar. Ia juga amat paham kapan saja booming pasar terjadi.

Kini ia punya tiga unit penggorengan vakum dilengkapi dengan 12 unit freezer. Ia juga sudah punya enam unit pembuatan dodol aneka buah yang dilengkapi dengan mesin pengaduk.  

Rumahnya, yang berlantai tanah, telah dirobohkan. Diganti dengan rumah tembok model mutakhir. Pabriknya dibuat terpisah dari rumahnya, berlantai keramik putih. Amat bersih, sesuai dengan kaidah food-grade sebagaimana halnya pabrik sungguhan. Tak ada orang yang boleh masuk ke dalam pabrik, kecuali pegawai dan pemilik.

Kini Huda bukan cuma dikenal sebagai orang kaya. Ia juga adalah pengayom petani apel skala gurem. Orang-orang memanggilnya jragan kripik. (Jragan itu identik dengan saudagar).

Huda bersyukur. Telah menjadi orang makmur, bukan karena ia adalah anak orang kaya, tapi karena karyanya sendiri. Juga ia syukuri untuk keberaniannya belajar dan berubah sambl praktek.

“Para petani mesti belajar untuk tidak menjual produknya mentah-mentah. Ia harus pikirkan, olah dulu produk-produk itu, agar hasilnya menjadi berlipat,” katanya. [Djuhendi Tadjudin]

Entry filed under: Inspirasi, Perubahan. Tags: , , , , , , , , , , , , , .

FILSAFAT POLITIK SISTEM AGRIBISNIS TANPA JIWA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Mei 2009
S S R K J S M
« Apr   Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: