PENEROPONG PELUANG DARI SENDANG BIRU

April 28, 2009 at 7:46 pm Tinggalkan komentar

Tengah 1997.  Krisis moneter menerjang negeri ini. Menyusup sampai ke desa-desa. Termasuk Sendang Biru, sebuah desa pantai di selatan Malang.

Suatu hari, tidak seperti biasanya, para nelayan datang menepi secara rombongan. Tentu saja itu jadi prosesi yang menumbuhkan tanda-tanya. Maka masyarakat pun telah berbaris menyambut kedatangan iring-iringan nelayan.

“Bawa apakah mereka? Apakah mereka dapat hadiah dari Nyai Roro Ratu Kidul?”

Ternyata nelayan setempat itu memperoleh tangkapan yang tidak biasa, yaitu…lima perahu nelayan ‘asing’. Mereka digiring ke Balai Desa. Diarak ratusan massa yang membawa segala senjata. Golok, tombak, bambu runcing, dan clurit.

Dalam sidang di Balai Desa, para nelayan asing itu mengaku datang dari Sinjai (Sulawesi Selatan). Mereka mengejar rumpon (karang buatan) yang terlepas dari lautan lepas Samudera Hindia. Menurut mereka, itu adalah rumpon milik nelayan Filipina, yang menangkap tuna di Samudera Indonesia.

Masyarakat tidak percaya begitu saja. Rumpon tidak dikenal di sana. Juga tidak bisa bayangkan, bahwa di Samudera Hindia sana masih ada nelayan yang tangkap ikan. “Apa tidak takut murka Nyai Roro Kidul?” Karena itu, masyarakat cenderung menghukum ‘pendatang haram’ itu, karena telah mencoba mencuri ikan di perairan mereka.

Ketika palu vonis nyaris jatuh, Darsono (yang dikenal sebagai saudagar kayu olahan), bikin usul yang mengejutkan. “Biarkan mereka tinggal di sini, asal mereka bicara jujur tujuan sebenarnya mereka datang kemari. Dan mereka harus membagi ilmu, bagaimana caranya menangkap ikan yang besar-besar ini.” (Ketika ditangkap dan digiring, dalam perahu nelayan Sinjai itu terdapat ikan-ikan tuna yang amat besar, yang belum pernah dilihat oleh nelayan setempat).

Ringkas kata, Darsono mencium sebuah peluang. “Mustahil para nelayan itu bersedia berlayar sejauh itu, jika tidak sedang mengejar hal yang amat berharga,” katanya dalam hati.

Maka Darsono membuat sebuah perahu, sesuai dengan petunjuk nelayan Sinjai. Membeli alat pancing. Kemudian memberi kepercayaan kepada nelayan setempat (yang paling vokal untuk menghukum pendatang haram).  Tapi usahanya gagal total. Memancing tuna itu ternyata hal yang amat berbeda dengan menangkap ikan pada umumnya.

Kemudian ia minta seorang nelayan Sinjai untuk ikut dalam armadanya. Diperolehnya 16 ikan tuna, dengan berat total 700 kilogram. Atas petunjuk nelayan dari Sinjai itu pula, ia bawa hasil tangkapannya ke Benoa (Bali). Dari 16 ekor ikan tuna tangkapannya, hanya dibeli satu ekor saja yang berbobot 50 kilogram.

Tapi pengalaman pertama menjual tuna ke Bali tersebut, telah memberinya pengetahuan yang amat berharga. Pertama, hasil penjualan satu ekor ikan tuna itu, ternyata telah menghasilkan keuntungan yang besar. (Bayangkan jika semua ikannya memenuhi syarat). Kedua, ia menjadi tahu, spesifikasi teknis ikan tuna yang bisa dibeli oleh bandar-bandar tuna di Bali.

Sekembalinya ke Sendang Biru, ia buat lima perahu. Juga membuat tidak kurang dari 10 rumpon, sesuai dengan petunjuk nelayan-nelayan Sinjai.

Kini, nelayan-nelayan hidup berdampingan dengan nelayan setempat. Malah ada yang berhasil menjalin rumah-tangga dengan penduduk setempat.

Sendang Biru pun dikenal sebagai penghasil tuna terbesar di Pulau Jawa. Darsono berkembang menjadi pengusaha (koordinator pengumpul) dengan omzet tahunan tidak kurang dari 10 miliar rupiah.

Semua itu terjadi karena ada orang yang berhasil meneropong sebuah peluang emas. Jika tidak, mungkin hanya akan ada cerita pilu. “Lima perahu nelayan Sinjai dibakar. Nelayannya dibunuh.” Dan kehidupan nelayan Sendang Biru tetap pilu seperti dulu. [Djuhendi Tadjudin]

Entry filed under: Inspirasi, Perubahan. Tags: , , , , , , , , .

KESEIMBANGAN DI MALANG WORKSHOP KONSULTAN KLINIK BISNIS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

April 2009
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: