TAK CUKUP HANYA JIWA PEMENANG

April 26, 2009 at 8:53 pm Tinggalkan komentar

Tidak ada yang tahu persis, dari mana datangnya jiwa pemenang (virus n Ach), yang menyebar luas dalam masyarakat Malang Raya. Ada yang bilang, semangat itu sudah ditularkan sejak jaman Ken Arok, yang mengajarkan egalitarian dan kemenangan.

Ada juga yang mengatakan, masyarakat Malang pandai memelihara ‘situasi kompetisi’. Ia tempatkan Surabaya sebagai ‘lawan kompetisi’. Yang penting tidak kalah oleh Surabaya. (Mirip dengan Malaysia, pada awal perkembangannya, selalu menanamkan: Jangan pernah kalah oleh Indonesia). Tapi pada saat yang sama menjadikan Bandung sebagai ‘benchmark’ mereka.

Pada tengah tahun 1980-an, jiwa penenang itu tetap menyala. Bahkan sampai sekarang juga menyala. Tapi ketika itu, jiwa pemenang jadi meradang. Karena hanya menghasilkan perjuangan panjang tanpa sebuah kemenanangan.

Kawan saya, sebut saja Zaenal –bukan nama sebenarnya, menemukan tidak adanya peluang kerja setelah ia dapatkan ijasah dari peguruan tinggi ternama di sana. Istrinya seorang dokter. Ia sendiri berangkat dari keluarga pedagang pasar. Semua sahabatnya adalah pedagang pasar.

Tapi ia sadar betul. Pasar sekarang, mulai menunjukkan persaingan edan yang tidak adil.

Ketika pasar itu kumuh, orang Kidul Pasar, Comboran, Kidul Dalem, Jodipan, dan Kebalen yang memenuhi kios pasar. Daerah-daerah itu mewakili ciri ‘pribumi’ buat Kota Malang ketika itu.

Namun tatkala pasar tradisional dibangun menjadi pasar modern, terjadi pergeseran besar-besaran. Pribumi mulai tergencet. Kiosnya menciut drastik. Tempatnya pun terpental ke pojok ‘paling kumuh’ di pasar-pasar moderna itu, meski secara fisik jauh lebih ‘kota’ ketimbang pasar-pasar tradisional dulu.

Kios-kios terbaik diisi oleh orang-orang dari Pecinan dan Kayutangan. Itu hanya istilah ‘orang pasar’, hanya untuk menggambarkan adanya kelompok yang ‘lebih cerdas’, yang selalu dapat ‘kios terbaik’ duluan.

Zaenal tahu persis. Jika ia bertarung di kios sempit itu, ia tidak akan pernah jadi pemenang. Ia akan dimutilasi oleh jaman secara sistematik. Karena itu, telah ia putuskan untuk memutus tali tradisi: Tidak akan berjualan di pasar. Kawan-kawan sekampungnya di Kidul Pasar menghargai keputusannya itu. “Benar juga, amat sayang jika pemegang ijasah sarjana harus berkutat di pasar yang apek.”

Tapi, keputusan Zaenal harus membentur kenyataan yang tidak kalah keras dengan pasar di Comboran, Kidul Pasar, Pasar Besar, dan Pasar Kebalen. Ia selalu kalah bersaing ketika memasuki pasar PNS di pemerintahan setempat. Industri-industri swasta juga lebih banyak menyediakan lowongan buat tenaga harian lepas (untuk pendidikan rendah), tapi tidak ada lowongan buat seorang sarjana.

Untung Zaenal bukan pecundang. Ia boleh menerima pukulan-pukulan mematikan, tapi tak sudi keluar gelanggang sebagai pecundang.

Adalah bemo yang menyelamatkan jiwanya. Ia tetap bertarung sebagai seorang sopir bemo jurusan Malang-Blimbing. “Tapi ini tidak akan bertahan lama,” katanya suatu ketika. Bukan karena profesi itu nista, dan ia tidak kuat untuk menjalaninya. Tapi karena ia tahu, bemo akan segera tergatikan dengan mobil-mobil niaga masa kini. Ia tahu, karena kini sudah bermunculan agen-agen mobil niaga. “Tapi tanpa uang di tangan, saya tidak mungkin menjadi salah satu pemilik angkutan kota itu,” katanya pasti.

Kini Zaenal menjadi salah satu pemilik toko oleh-oleh pada jalur wisata. Hidupnya lumayan makmur.

Perjalanan hidupnya amat menggugah. Seyogyanya menyadarkan para petinggi negeri. Bahwa tak cukup hanya jiwa pemenang untuk mendorong sebuah masyarakat agar sungguh-sungguh tampil sebagai pemenang. Juga dibutuhkan ‘pasar’ yang cukup besar, dan kesempatan yang adil. [Djuhendi Tadjudin].

Entry filed under: Inspirasi, Perubahan. Tags: , , , , , .

MISTERI PEMILU ‘COUNT’ KESEIMBANGAN DI MALANG

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

April 2009
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: