TERLALU KECIL UNTUK JADI BESAR

April 20, 2009 at 8:08 pm 2 komentar

Berdasarkan riset, usaha mikro itu pada umumnya sulit menjadi besar karena mereka memang “terlalu kecil untk jadi besar.” Hasil itu, yang diungkapkan oleh lembaga-lembaga bergengsi, seolah menjadi palu godam yang menegaskan takdir usaha mikro.

Dengan vonis seperti itu, maka hanya satu cara untuk membuat mereka mencapai skala yang ekonomi, yaitu berhimpun dalam sebuah kelompok. Jika penghimpunan itu dilakukan dengan hati dan jiwa, seperti yang tergambar dalam pemeo “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”, maka sangat mungkin himpunan usaha mikro itu bisa berkembang menjadi besar dan memuaskan anggotanya.

Namun jika yang terjadi adalah sebuah perkawinan artifisial, seperti yang digambarkan dalam iklan tentang koperasi yang digaungkan oleh mantan-mantan menteri dan menteri koperasi baru-baru ini “pembinaan ekonomi rakyat itu, hanya melalui koperasi”, maka sangat mungkin akan berakhir pada sebuah himpunan busa sabun. Menggelembung besar, tapi tidak memberikan kepuasan bagi anggota-anggota yang berhimpun.

Namun sebuah kreatifitas, bisa menghancurkan “dalil” di atas. Ada dua kasus yang amat cantik untuk menggambarkan hal itu.

Pertama, bika Ambon di Medan, adalah produksi industri rumahan. Pada awal perkembangannya, sulit membayangkan industri itu akan berkembang pesat.

Pada akhir tahun 1970-an, produk itu hanya terkenal di kalangan masyarakat Medan saja. Maka amat terbataslah pasarnya. Namun ketika pemasarannya dikaitkan dengan sektor ‘pariwisata’, menempatkan bika Ambon sebagai produk oleh-oleh dari Medan, maka volume penjualannya pun meningkat amat pesat. Ratusan kilogram bika Ambon mengalir ke bergagai daerah.

Kini industri bika Ambon menjadi industri massal skala rumah tangga. Bahkan ada yang berhasil mencapai skala industri ‘menengah’.

Kedua, siapa yang bisa bayangkan usaha cilok bisa menjadi usaha besar? Cilok adalah makanan sejenis bakso, terbuat dari terigu, ditusuk seperti sate, diberi bumbu campuran kacang dengan saus. Biasanya dijajakan oleh pedagang keliling, umumnya dipikul. Sehari habis 200-300 butir. Pendapatan hariannya mencapai 20-30 ribu rupiah.

“Apakah bisa meningkatkan skala usahanya?” tanya saya kepada Mang Danu, penjual cilok di kampus IPB. “Kalau sendiri mah, susah Kang. Laku 300 butir itu kalau jualannya sekarian,” kata Mang Danu. “Tapi kalau nambah pedagang, mungkin juga, sebab saya yakin masih banyak orang yang pengen beli cilok.”

Situasi itu dilihatnya juga oleh Bu Ani, sebut saja demikian, pengelola Pasar Ikan Higienis di Bogor. Tapi ia melihat sebuah peluang menarik. “Saya bisa bikin cilok ikan, dan dipasarkan dengan harga cilok pada umumnya,” katanya suatu hari.

Bu Ani awalnya hanya memproduksi saja. Tapi pemasarannya bisa sampai ke Bandung. Cilok nomor satu di Bandung, yang tersebar di pelbagai pusat jajan, boleh jadi buatan Bu Ani. Tapi mereka menyebutnya dengan ‘sate ikan’, untuk membedakannya dengan cilok pada umumnya yang bermutu lebih rendah.

Pada perkembangan selanjutnya, Bu Ani juga mengembangkan jaringan. Pedagang keliling cilok, bisa ‘diberi kredit’ tempat jualan dorong ataupun ditarik dengan sepeda, asal mengambil cilok buatannya.

Tawaran ini disambut oleh Kang Tatang. Ia kumpulkan sebanyak 60 orang yang bersedia berdagang cilok di seputar Bogor. Jaringan itu memberikan kesejahteraan bagi 60 pedagang, Kang Tatang, maupun Bu Ani.

Dengan kreatifitas, jenis usaha yang semula tampak gurem bisa disulap menjadi usaha ‘besar’ yang amat ekonomik. Kini, ada baiknya, setiap pelaku usaha mikro memikirkan, pasti ada satu atau lebih cara kreatif untuk membesarkan usahanya. [Djuhendi Tadjudin]

Entry filed under: Inspirasi, Perubahan. Tags: , , , , , , , .

TEMU BISNIS SEMARANG HAKEKAT BISNIS

2 Komentar Add your own

  • 1. kamabara  |  April 30, 2009 pukul 4:31 pm

    luar biasa kang…
    Sepertinya kita harus segera bertemu untuk menduplikasikan DARSONO si nelayan, Bika Ambon, Mang Danu,Bu Ani, untuk menjadi banyak dan bertumbuh di seantero negeri ini…

    Saya terlalu miris melihat kebanggan mayoritas anak negeri terhadap apapun produk impor, kenapa kita tidak mengangkat semur jengkol, atau membanggakan sepatu2 buatan ciomas, dan seterusnya…

    Semoga dengan kekuatan kang Dju dan sedikit pengalaman saya pada pengelolaan kelembagan maka dengan niat IKHLAS Insya Allah kita bisa menjadi anak bangsa yang bangga dengan keanekaragaman potensinya.

    Amin

    Balas
    • 2. Djuhendi Tadjudin  |  April 30, 2009 pukul 4:36 pm

      Mari kita “ketemuan”. Saya percaya bangsa ini bangsa besar. kadang bisa menjadi kerdil, karena dikerdilkan pemimpin kerdil. Hidup bangsa besar!

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

April 2009
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: