TEMU BISNIS SEMARANG

April 19, 2009 at 11:01 am Tinggalkan komentar

Semarang, 18 April. Para pelaku bisnis oleh-oleh (terutama yang terbuat dari ikan) berhimpun di Pasar Ikan Higienis. Wakil dari rumah-sakit, hotel, jasa-boga, restoran, toko penjual oleh-oleh, dan pembuat aneka makanan dari ikan bertukar-pikiran.

Tiga direktur di lingkungan Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan hadir. Victor Nikijuluw (Direktur Usaha dan Investasi) membuka acara. “Pada masa resesi, kegiatan makan di luar di Asia Tenggara rata-rata turun, kecuali di Indonesia.”

“Jika di tempat lain, sedang terjadi resesi, maka di Indonesia justru terjadi resepsi,” katanya disambut gelak-tawa peserta.

Sadullah Muhdi (Direktur Perdagagan Dalam Negeri) menjadi pembicara kunci, dipandu oleh Direktur Pengolahan Hasil Perikanan (Dr. Farid). Sadullah Muhdi menyajikan informasi tentang makan ikan. “Jika dihitung dengan ukuran rupiah per gram protein, maka harga ikan terentang dari yang termahal sampai dengan termurah. Ikan mujair dan ikan kembung, ternyata berharga paling murah, lebih murah ketimbang harga telur ayam.”

Direktur Pengolahan Hasil Perikanan menambahkan, memasak ikan itu memerlukan energi yang lebih kecil. Karena daging ikan lebih cepat matang, dibanding dengan daging sapi atau ayam. Lagipula, ikan idealnya memang dimasak tidak kelewat matang.

Peserta amat antusias ‘curah harapan’. Pengolah ikan skala rumah tangga mendambakan pasar. Para pedagang menyambutnya, mereka bersedia memasarkannya asal ada penyempurnaan kemasan.

Pihak rumah sakit dan hotel juga bersedia bermitra dengan pemasok ikan. Sektor ini menyukai jenis ikan tertentu.

Seorang pengolah ikan bandeng tanpa duri, Mas Bambang, bersedia berbagi ilmu kepada peserta lain. Mereka diajak untuk memproses pencopotan duri. Mas Bambang bersedia memasarkannya. Mas Bambang bahkan bersedia membeli bandeng-bandeng dari Juwana (yang relatif cukup berlimpah), asalkan memenuhi spesifikasi teknis yang ditetapkannya.

Kelompok ibu-ibu nelayan dengan semangat menunjukkan hasil karya kelompoknya, berupa nugget ikan, yang penampakan dan rasanya tidak kalah dengan produksi pabrikan.

Acara ini ditutup dengan penandatanganan ikrar bersama. Mereka sepakat untuk membangun kemitraan dan jaringan bisnis yang saling membesarkan dan menyehatkan masing-masing bisnis mereka.

Peserta meminta pertemuan seperti itu bisa diikuti dengan pertemuan-pertemuan lainnya di tingkat kabupaten. Di Juwana, Rembang, di Boyolali dan di Semarang itu sendiri.

“Tapi dalam pertemuan kelak, mohon diberi waktu yang lebih panjang kepada kami untuk bicara,” kata peserta di sela-sela menikmati santap siang.  Itu usul yang radikal. Peserta meminta agar mereka yang berdiskusi, berbagi pengalaman, dan curah harapan. Sementara pemerintah pusat dan pemerintah daerah memfasilitasi dan menjembatani, jika mereka menghadapi persoalan yang tidak mungkin diatasi oleh mereka sendiri. Menarik! [Djuhendi Tadjudin].

Entry filed under: ACARA, Inspirasi, Perubahan. Tags: , , , , , , , .

SISA HASIL USAHA TERLALU KECIL UNTUK JADI BESAR

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

April 2009
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: