TEMU BISNIS RUMPUT LAUT

April 18, 2009 at 6:50 am Tinggalkan komentar

Senggigi, Mataram, 15-16 April. Pelaku bisnis rumput laut bertemu. Pembudidaya, pengolah skala rumah-tangga, pedagang pengumpul, pengekspor, dan pengolah skala besar duduk dalam satu forum. Lembaga keuangan (PT Permodalan Nasional Madani) juga hadir. Didampingi pejabat Deparemen Kelautan dan Perikanan serta Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB, NTT, Bali, Sulawesi Selatan, dan Gorontalo.

Direktur Perdagangan Dalam Negeri, Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan, Departemen Kelautan dan Perikanan, Ir. Sadullah Muhdi, MBA membuka acara itu. “Rumput laut merupakan komoditi andalan, yang melibatkan masyarakat dalam jumlah besar,” katanya. “Karena melibatkan multi-pelaku, maka di sini kita dorong agar pelaku usaha itu bisa membangun kemitraan yang saling menguntungkan.”

Dr. Lina Hardjito, Ketua Departemen Pengolahan Hasil Perikanan, Fakultas Perikanan IPB, menerangkan beragam produk-turunan rumput laut. Malah dipamerkan pula contoh-contoh produk seperti mi instan, kosmetik, dan aneka makanan.

Profesor Jana T. Anggadiredja, Deputi Bidang Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam, BPPT, mengingatkan agar pelaku bisnis waspada terhadap sinyal pasar. “Harga yang melambung beberapa bulan lalu, merupakan sebuah bubble price, akibat Filipina ‘gagal produksi’ dan Cina melakukan panic buying,” katanya. “Karena itu, tidak lama kemudian, harga pun menurun kembali ke titik sejati.”

Tjahaya Setiawan, Direktur (dan pemilik) PT Phonix Mas Persada (produsen aneka makanan dari rumput laut terkemuka di Mataram) menceritakan kiprah perusahaannnya. “Saya ingin dikenang sebagai penghasil makanan yang baik.”

“Saya mulai bisnis dengan kerja keras. Bergerak ke mana pun yang diperlukan, sampai menghabiskan sol sepatu.”

“Tapi hal pertama yang saya butuhkan ketika itu bukanlah uang, tapi mencari tahu: Apa saja yang bisa mewujudkan impian saya itu. Dan itu bukanlah uang!”

Dalam dialog itu, ada keluhan pembuat dodol-nangka rumahan. “Dulu dodol saya laku. Sekarang, setelah industri bikin dodol nangka juga, maka dodol saya tidak laku lagi.”

Para pengolah rumput laut rumahan berharap agar industri bisa membagi ‘rahasia bisnisnya.’ Dalam forum terbuka, Pak Tjahaya tidak banyak membuka rahasia bisnisnya. Ibu Lina Hardjito yang justru menawarkan proses alih teknologi. “Silakan pengrajin datang ke IPB, atau undanglah kami ke tempat ibu-ibu,” katanya.

Pada saat rehat, Pak Tjahaya mendatangi saya. “Saya tidak bermaksud untuk melarang tamu datang ke pabrik saya. Saya hanya benar-benar menjaga agar proses produksi saya memenuhi syarat food grade, sejak bahan baku tiba di pintu pagar pabrik sampai produk itu dibeli konsumen.” “Jadi saya terpaksa melarang orang-luar kunjungi pabrik. Saya sendiri kalau masuk pabrik, harus pakai baju dan sepatu khusus.”

“Saya sesungguhnya ingin memajukan juga bisnis rakyat. Tapi mari kita cari cara yang tepat. Yang tidak saling mengkanibal,” katanya sungguh-sungguh. [Djuhendi Tadjudin]

Entry filed under: ACARA, Inspirasi. Tags: , , , , , , , , .

ADAKAH NEGARA DI MANA? SISA HASIL USAHA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

April 2009
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: