ADAKAH NEGARA DI MANA?

April 17, 2009 at 10:13 am Tinggalkan komentar

Televisi itu tak pernah kehilangan berita. Mereka bisa mengusung nara sumber yang tak terpikirkan. Investigasinya bolehjadi lebih cerdas dibanding dengan reserse.

Ketika publik sedang menanti perkembangan real time count yang dilansir KPU, setelah usai menelan quick count,  televisi sudah menampilkan berbagai kejahatan Pemilu. Ada wawancara dengan nara sumber (yang dikaburkan wajah dan suaranya).

Nara sumber bertutur panjang lebar bagaimana sebuah partai melakukan politik uang.  Cerita dibangun amat rinci, sejak oknum menukar uang receh di bank sampai dengan teknis penyampaian surat undangan yang disertai amplop berisi uang.

Praktek itu, tentu saja, bukan hanya pelanggaran berat dalam Pemilu. Tapi juga merupakan sebuah kejahatan umum. Sebuah pidana.

Pada saat yang sama, televisi itu juga mengabarkan praktek pencampuran daging babi ke dalam perniagaan daging sapi. Berita itu lengkap dengan wawancara bagaimana paru-paru babi itu digoreng agar tampak seperti paru-paru sapi, dan bagaimana tenggorokan babi diolah agar tampak seperti kikil sapi. Reportasenya amat rinci dan lengkap.

Lagi-lagi, sebuah praktek pidana bisa tampil dalam kaca televisi dalam bentuk berita real time.

Beberapa waktu yang lalu malah lebih parah lagi. Sebuah stasiun televisi bisa menghadirkan nara sumber yang mengaku berprofesi sebagai “pembunuh bayaran”. Wawancara itu amat lengkap dan rinci. Mulai dari motivasi menjadi pembunuh bayaran, siapa saja client mereka, berapa upahnya, dan bagaimana cara operasinya.

Rincian ceritanya mengingatkan pada gaya penuturan film penyuluhan, semisal, “bagaimana memelihara ikan lele yang higienis?”. Beri saja judul berita itu, “Bagaimana Cara Membunuh yang Sukses?”. Gila!

Pada acara lain, ditampilkan tukang tagih utang (debt collector) –yang konon pekerjaan itu melanggar hukum- secara lucu-lucuan. Seolah penagih utang itu sebuah sosok ‘yang lucu’ dan ‘menghibur’. Dan memang acara itu sungguh tidak lucu ketika itu.

Dalam ketiga jenis berita di atas, televisi amat bolehjadi bisa berlindung pada amar perlindungan “nara sumber”. Jadi mereka bisa mengaburkan identitas dan keberadaan nara sumber. Mirip seperti Bernstein dan Woodward yang melindungi nara sumbernya dalam “All President Men” sebagai The Deep Throath.

Mungkin saja, televisi tidak bisa dituding sebagai “menyembunyikan pelaku kejahatan”. Tapi ada perkosaan rasa keadilan. Ada proses de-edukasi yang brutal. Sungguh, jiga hukum di negeri ini tegak, stasiun televisi itu telah menyumbang edukasi yang buruk dan pendukung ‘tidak terbentuknya good governance’.  Para ahli hukum, semoga, bisa melihat: Acara-acara seperti itu merupakan sebuah ‘pidana’ bagi televisi.

Tapi ini lebih ajaib. Semua jenis kejahatan yang ditayangkan oleh televisi itu tidak termasuk delik aduan. Beda dengan pencemaran nama baik. Dengan demikian, ada ataupun tidak ada aduan lain dari warga negara, maka negara wajib untuk ‘membekuk’ pelaku kejahatan itu.

Artinya, negara, dengan berbagai cara, harus membekuk pelaku kejahatan-kejahaan itu: penjahat Pemilu, peramu daging babi, dan pembunuh bayaran. Tidak perlu menunggu korban-korban berikutnya.

Mungkin saja, televisi juga bisa membantu melokalisasi kejadian (meski tetap melindungi identitas penjahatnya), agar ia tetap menjunjung tinggi kerahasiaan sumber berita. Tapi dengan kecerdasannya, para polisi harus melacak penjahat-penjahat itu, dimulai dari kaca televisi.

Jika berita-berita seperti itu bisa tampil tanpa tindak-lanjut hukum, maka betapa rapuhnya dinding keamanan masyarakat ini. Maka betapa leluasanya pelaku kejahatan itu berlalu lalang.

Jika kejadiannya terus berulang, maka ingatan kolektif masyarakat akan melontarkan teriakan putus asa (yang parau nyaris tak terdengar): “Adakah negara di mana?” [Djuhendi Tadjudin]

Entry filed under: Opini. Tags: , , , , , , .

CROWDSOURCING TEMU BISNIS RUMPUT LAUT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

April 2009
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: