CROWDSOURCING

April 14, 2009 at 11:52 am Tinggalkan komentar

[Jeff Howe. 2009. Crowdsourcing: How the Power of the Crowd is Driving the Future of Business. Random House Business Books. London. 312 halaman + viii + indeks].

Sejak James Surowiecki meluncurkan buku “The Wisdom of Crowds: Why the Many Are Smarter Than the Few” (2004), bermunculannya hasil-hasil riset tentang kekuatan sebuah kerumunan. Kerumunan tidak lagi dipandang sebagai sebuah himpunan acak tanpa relasi-relasi sosial. Kerumunan ternyata adalah ‘kelompok’ yang masif, yang di dalamnya terdapat sistem nilai; dan lebih dari segalanya, juga memiliki kecerdasan yang luar biasa.

Buku karya Jeff Howe merupakan salah satu yang menonjol. Ia ungkapkan bahwa kerumunan bukan lagi dipandang sebagai salah satu stakeholder yang suaranya dipertimbangkan. Malah ada pebisnis yang mengandalkan kerumunan sebagai satu-satunya ‘konsultan’ dan sekaligus ‘konsumen’-nya.

Diceritakannya kisah Jake Nickell dan Jacob DeHart, dropout dari sebuah universitas di Chicago. Mereka bertemu dalam sebuah kompetisi merancang kaos oblong secara online. Merasa punya banyak kesamaan, keduanya sepakat untuk mengadakan kompetisi sendiri. Dibangunnya perusahaan pembuat kaos. Dibikinnya website. Diundangnya semua orang untuk memasukkan disain, dan disain itu dipajang dalam website mereka. Semua orang diminta untuk menilai, termasuk perancangnya sendiri. Rancangan yang memperoleh nilai tertinggi, dicetak menjadi kaos. Tentu saja, perancang dan pengunjung yang menilai, memperoleh insentif.

Perusahaannya terus tumbuh, meski dikelola sambil tiduran. Produknya cepat dikenal dan segera disukai. Lebih disukai dibanding dengan merk-merk yang sudah terkenal.

Jeff Howe, secara jernih menunjukkan, bahwa kerumunan itu, selain cerdas, juga merupakan nara-sumber yang amat bisa diandalkan. Namun demikian, ‘penggunanya’ harus pandai-pandai mengelolanya. Ia berikan sepuluh kiat untuk bisa mendayagunakan kerumunan secara cermat. Kiat itu sekaligus merupakan kesimpulan bukuna. Antara lain: pilih model ‘konsultasi’ yang tepat, pilih kerumunan yang tepat, pilih sistem insentif, gunakan alat probhing yang rinci tapi ringkas, dan sebagainya.

Yang menarik adalah cara menyanjikan tulisannya. Kita bisa membaca secara linear dari pembukaan sampai dengan kesimpulan secara runut. Tapi bisa juga membaca pembukaannya kemudian langsung lompat pada kesimpulannya. Jika ingin tahu lebih mendalam, ikuti tulisan terkait pada bab sebelumnya.

Semoga gagasan Jeff Howe itu menginspirasi para legislator. Itu jauh lebih bagus, ketimbang menghabiskan uang rakyat untuk studi banding dan ‘temu konstituen’ yang tidak efektif. [Djuhendi Tadjudin].

Entry filed under: REHAL. Tags: , , , , , .

KING MAKER ADAKAH NEGARA DI MANA?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

April 2009
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: