KING MAKER

April 13, 2009 at 11:49 pm 4 komentar

Pada jaman Mahabharata, King Maker selalu hidup di nirwana. Mereka adalah para dewa. Hanya dalam keadaan yang amat genting saja, para dewa kerap mengutus Dewa Wisnu turun ke mayapadha. Kadang juga Betara Naradha.

Para dewa itu membangun dialog dengan kerajaan yang ingin dilindunginya. Membisikkan kiat-kiat jitu untuk menghasilkan langkah-langkah cermat yang penuh dengan kebajikan. Termasuk soal siapa yang harus jadi raja, agar negara berjalan tata-tentrem kerta raharja.

Tapi kini, king maker itu bertebaran di mana-mana. Yang tampak paling bergengsi, tentu saja tidak harus yang paling jitu, adalah para pengamat yang bicara di televisi. Tapi saya sendiri lebih suka mendengar bicara para king maker di warung kopi.

Ulasan yang paling umum di televisi punya dua skenario. Semua skenario selalu menghadirkan SBY melawan Penantang.

Skenario A: SBY berpasangan dengan JK penantang dari PDIP. Skenario B: Golkar dan PDIP bergabung mengusung penantang. Partai Demokrat (yang mengusung SBY sebagai capres), membangun koalisi dari PKS, PAN, PKB, dan PPP. Sisanya (Gerindra dan Hanura) akan menggumpal dengan PDIP.  

Dalam skenario ini, Golkar akan jadi penentu mayor. Ke mana pun ia lari, akan menjadi vote getter yang luar biasa. Sedangkan PPP akan menjadi penentu minor. Jika berhasil ditarik oleh PDIP, maka akan menjadikan PDIP aman mengusung pasangan tersendiri, dengan ataupun tanpa dukungan Golkar.

Para pengamat, termasuk beberapa pengurus partai yang masuk sembilan besar (kecuali kubu PDIP), punya analisis yang sama. Siapa pun pasangan SBY dan siapa pun penantangnya, SBY selalu akan tampil sebagai pemenang, hanya dengan satu kali putaran saja.

Tapi kalau kita dengarkan analis para king maker di warung kopi, dan lapo-lapo tuak. Mereka justru melihat peluang yang terang benderang untuk bisa mengalahkan pasangan SBY sekali pukul.

“Langkah rahasianya ada pada PDIP,” kata Suryana di ujung kedai sambil menghidup kopinya di sela-sela asap rokokya yang mengabut. “PDIP harus mengambil prakarsa untuk menggalang koalisi dengan Gerindra, Hanura, dan PPP,” kata Kang Kabul menimpali, “…tapi PDIP harus rela menyerahkan kursi presiden dan wakil presiden kepada orang lain.”

Mantap betul analisisnya. “Ya benar,” kata Kang Dirman, “…dengan cara itu para pimpinan PDIP menunjukkan kematangannya menjalankan peran sebagai negarawan dan bukan sekedar sebagai politisi.”

“Nah, kalau Golkar bergabung dengan Partai Demokrat bagaimana?” sergah Aki Maksum.

“Dengan ataupun tanpa Golkar, skenario itu akan dimenangkan oleh PDIP,” kata Suryana lantang.

“Kuncinya terletak pada pesan terselubung, bahwa PDIP sudah siap untuk menjadi negarawan yang akan membangun bangsa, dan bukan sekedar politisi yang cari kuasa,” Suryana berkata yakin, kini tidak lagi sambil mengisap rokoknya.

“Tapi, apakah rakyat sudah bisa menerima tanda-tanda jaman seperti itu?” Aki Maksum ragu-ragu.

“Di situ kuncinya. Sekarang rakyat sudah siap!” kata Suryana mantap.

Tiba-tiba saya teringat pandangan James Surowiecki dalam buku The Wisdom of Crowds: Why the Many Are Smarter Than the Few (2004). Juga pandangan Jeff Howe dalam buku Crowdsourcing: How the Power of the Crowd is Driving the Future of Business (2009).

Siapa tahu, Betara Wisnu kini telah turun ke warung kopi? [Djuhendi Tadjudin].

Entry filed under: Inspirasi, Opini, Perubahan. Tags: , , , , , .

DUA CALEG DEPRESI CROWDSOURCING

4 Komentar Add your own

  • 1. Heru Yuwono  |  April 30, 2009 pukul 12:42 pm

    Tampaknya harus ada yang bersedia untuk terus menerus memprovokasi baik PDIP maupun Golkar (baca : Megawati dan Jusuf Kalla)bahwa mereka itu orang-orang besar, tak kalah besarnya dengan Nelson Mandela atau Mahatma Gandhi. Mereka berdua itu dinosarus, jadi jangan bermain di kolam kecil, tapi bermainlah di samodra besar. Perlu disampaikan kepada mereka bahwa perebutan kekuasaan dan kursi itu soal kecil, sehingga jangan buang-buang energi seperti membunuh seekor lalat dengan bom atom sekelas perusak Nagasaki-Hiroshima. Jiwa-jiwa mereka jauh lebih besar ketimbang sebuah kursi kekuasaan presiden, ketua DPR atau ketua MPR sekalipun. Tapi yang susah, apakah mereka faham di metafora itu ? Kalau posisi mereka masih di orbit terluar dari tujuh orbit makro dan mikro kosmos, yah memang nasib bangsa Indonesia masih seperti sekarang ini. Mungkin sejenis rasa sakit yang tak bisa terlupakan, diperlukan untuk membongkar orbit-orbit kejiwaan yang lebih dalam atau lebih tinggi. Bravo untuk Kang Joe. Salam, HY

    Balas
    • 2. Djuhendi Tadjudin  |  April 30, 2009 pukul 3:51 pm

      Saya percaya juga, mereka itu orang-orang besar. Punya hati untuk membangun negeri ini…. Semoga. Kalau bukan kita, siapa lagi yang bangun negeri ini. Negeri yang sesungguhnya kaya, tapi menjadi teramat miskin…..karena tidak kerap punya pemimpin dan rakyat yang hidup beres. Ke depan semoga beres. Saya berdoa semoga beres.

      Balas
  • 3. Hambeg Poromarto  |  Mei 1, 2009 pukul 10:19 pm

    Mas Djoe,
    Kebetulan, apa yang Mas Djoe tulis sangat searah dengan hipotesa-hipotesa saya sebelumnya ….. (memang kelasnya warung kopi he heee). Bahkan, hipotesa yang saya ajukan, sempat saya kirimkan ke petinggi-petinggi Partai, baik yang aktif di struktur partai atau yang tidak, seperti Bang Akbar Tandjung).

    Hipotesis saya berangkat dari sisi Megawati dengan PDIP-nya.
    1. Megawati pasti kalah, entah di putaran pertama atau kedua. Sementara itu, SBY setidaknya sampai ke putaran kedua.
    2. Jika Megawati gagal di putaran pertama, maka suaranya akan (pasti???) dialihkan ke lawan SBY. Di sini, peran partai menengah akan sangat menentukan.

    Dengan hipotesis ini, saya sarankan

    1. Megawati untuk tidak maju lagi dari pada “dipermalukan” untuk ketiga kalinya.
    2. Golkar atau JK jika ingin mau maju jadi Capres, hendaknya cepat-cepat merangkul partai menengah dengan memberi “bonus” yang lebih besar daripada yang ditawarkan oleh SBY (Demokrat).

    Itu ringkasan singkat yang saya sampaikan kepada mereka sebelum Golkar dan Demokrat pecah “kongsi”

    Namun, yang namanya analisis “warung kopi” mana ada yang mau dengar ha ahaaaa ….. harusnya diskusi tersebut saya sampaikan di “Budha Bar” kali ya Mas Dju?.

    NB, Ms Dju, saya lebih sreg Mas Dju panggil saya “Mbeg” seperti dulu saja ….

    Salam dar Fargo, ND

    Balas
    • 4. Djuhendi Tadjudin  |  Mei 1, 2009 pukul 10:23 pm

      mBeg, memang bener “analisis warung kopi” nih. Tapi saya yakin……itu adalah peluang terbaik untuk melawan. Kita lihat…(sambil minum kopi….). Trims

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

April 2009
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: