DUA CALEG DEPRESI

April 12, 2009 at 9:47 am Tinggalkan komentar

Pencontrengan baru usai kemaren. Hasil real count KPU masih berjalan. Baru quick count dari pelbagai lembaga survai independen yang diluncurkan ke publik. Tapi angin kutukan telah mulai menyelinap ke sela-sela iga para caleg. Saya tahu itu, karena jumpa dua orang caleg yang depresi berat. Lucunya, yang satu adalah pecundang sedangkan yang lainnya justru pemenang.

Yang pecundang amat jelas. Ia kalah telak. Bukan cuma kehilangan muka, tapi juga kehilangan harta…tidak kurang dari 5 miliar. Celakanya, hampir semuanya modal orang lain.

Ia terkejut melihat perilaku para ‘donatur’ itu. Dulu mereka dengan muka santun memberikan dukungan finansial. Berapa pun yang dibutuhkannya, uang mengalir dengan lancar. Bahkan ketika membutuhkan tiga ribu poster, maka para donor dengan gampang menyediakannya. Tak ada yang sulit dengan soal pembiayaan yang dibutuhkan selama masa kampanye. Donor sudah menyediakan semuanya, termasuk untuk ‘salam tempel’ kepada calon pemilih.

Memang benar, semua donasi itu bukanlah sebuah qordul-hasan.  Bukan sebuah pinjaman yang bisa diangsur mana suka, selama kita sedang kuasa membayarnya.

Donasi itu umumnya berlabel “surat hutang” maupun “titipan modal”. Seremoni penanda-tanganannya dilakukan dalam suasana amat ramah kekeluargaan. Malah diiringi dengan saling peluk dan cipika-cipiki.

Ketika hasil quick count muncul, para donatur satu per satu berdatangan, dengan wajah yang tidak lagi ramah. Ada yang minta penegasan surat hutang, agar dilegalisasi di notaris dengan tenggat waktu pengembalian yang jelas.

Yang menggunakan modul ‘titip modal’ mulai bicara seperti pengacara, bahwa uang itu mesti kembali. Jika tidak akan menjadi urusan pidana. Dan banyak lagi hal-hal serupa, yang membuat pertahanan dirinya jebol. Maka ketegaran jiwanya pun terpangkas habis.

Yang mengagetkan adalah yang justru tampil sebagai pemenang. Ia pun dapat modal jadi caleg dari donatur.

Ia mulai sibuk menghitung. Bagaimana cara mengembalikan ‘investasi’ sebesar 5 miliar itu?

Gaji jadi anggota DPR itu 51 juta sebulan. Anggap saja itu semua bersih jadi tabungan, karena untuk hidup keluarga bisa diambilkan dari sodok kanan dan sodok kiri.

Kini, sang pemenang terperanjat. Jadi anggota DPR RI selama lima tahun itu akan memberinya uang gaji sebesar 3 miliar lebih sedikit. Jumlah yang masih jauh di bawah nilai ‘investasi’-nya (baca: nilai hutangnya) yang mencapai 5 miliar itu.

Demikian terperanjatnya, sampai-sampai degup jantungnya menendang-nendang ubun-ubunnya. Mendesak pangkal otak-besarnya, dengan tekanan yang tidak tertahankan.

Akhirnya….blar! Ia tersungkur di depan pintu dapur. Tatkala bangun, tak dikenali lagi wajah istrinya yang teriak histeris. Dari mulutnya, yang selama ini penuh doa, hanya muncul rintihan pilu: “Bagaimana aku kembalikan hutang-hutang itu? Gak nyampe, nggak nyampe…jauh, jauh, jauh…hu hu…huuu.”

Tubuhnya teronggok di sebelah dispenser air mineral. Kepala tersiram pancuran “dingin”. Tapi justru hawa panas tetap menggerayangi seluruh jalan darahnya.

Hari ini, di sini, tersungkur dua ksatria. Keduanya memberikan pelajaran. Jika bertarung untuk menjadi anggota DPR di negeri ini, maka perhatikanlah nasihat ini: “Jangan pernah kalah. Dan kalau menang, jangan lugu!” [Djuhendi Tadjudin]. 

Entry filed under: Inspirasi, Opini. Tags: , , , , , , , .

SAYA TAK MIKIR MENANG, TAPI… KING MAKER

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

April 2009
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: