MEMILIH

April 9, 2009 at 8:38 pm Tinggalkan komentar

Saya sudah punya ketetapan hati untuk memilih. Bahkan ikut kampanye untuk aktif memilih di setiap kesempatan. Dalam facebook (FB) pun menjadi penganjur untuk aktif memilih, meski untuk lingkungan kawan-kawan saya, itu merupakan pandangan minoritas.

Satu ketika saya tempatkan pernyataan “Kita pilih wakil rakyat yang lebih baik” dalam papan FB. Kawan-kawan menanggapi: “Buruk semua.”

Saya masih bilang: “Pilih yang lebih baik, meski di antara yang buruk. Itu lebih baik, ketimbang terpilih yang terburuk.”

Kawan saya bicara lantang: “Bagaimana bisa pilih yang lebih baik, kenal saja tidak.”

Hati saya pun sesungguhnya sama dengan pernyataan terakhir. Saya tidak tahu mereka. Mereka tidak pernah ada dalam hidup saya, bahkan tidak pernah bicara soal kepentingan saya. Mereka hanya tampil dalam bentuk gambar yang tidak menarik.

Sungguh berbeda dengan melihat poster sebuah film. Ketika lihat gambarnya, saya ingat sebuah resensi yang dibuat oleh Kang Hikmat, kawan saya. Ada nama sutradara yang punya sejarah bagus sebagai penghasil film-film bermutu. Ada penulis skenario, yang terkenal lincah, piawai memainkan situasi. Ada editor yang setiap saat siap memberikan kejutan. Ada pengisi lagu dan musik tema, yang genre-nya sudah dikenal.

Ringkas kata, poster film menghadirkan sebuah cerita. Sebuah sub-text yang bertutur panjang-lebar secara halus. Poster film itu tidak pernah lahir dari sebuah ruang hampa.

Adapun poster para calon legislator itu, tak bicara apa-apa, kecuali janji murah a la tukang kecap. “Kalau ingin lanjutkan reformasi dan berantas korupsi, pilih saya partai nomor sekian calon nomor sekian.” Tapi tak ada satu pun panca indera saya yang bisa mengenali mereka. “Mahluk asing dari manakah mereka?” “Kamu bicara begitu, siapa kamu?”

Meski demikian, saya masih menulis: “Memang kita mesti menelisik faktor terkait dengan para calon legislator.” Itu pun mengundang lebih banyak tentangan ketimbang nada simpati.

Sampai akhirnya dengan putus asa, saya tayangkan: “Sebaik-baik alasan untuk golput, masih lebih buruk ketimbang alasan terburuk untuk memilih.” Sekilas argumen saya itu amat heroik. Tapi anak saya, yang baru SMA kelas tiga, berpendapat: “Itu terdengar seperti argumen orang putus-asa.” (Tentu saja saya tidak mau mengakuinya, meski ingin membenarkannya).

Hari ini saya masuki TPS. Saya sudah punya skenario. Skenario A: fokus pada empat partai yang sudah terpilih jauh hari sebelum hari H. Kemudian lihat wakil-wakilnya, dan pilih satu di antara mereka.

Jika gagal, tempuh Skenario B. Simak semua wakil. Kenali mereka. Ajak hati untuk bicara. Tentukan salah satu di antara mereka.

Ini sudah melibatkan strategi sapujagat. Mustahil akan meleset. Karena telah melibatkan nyaris segala peluang.

Tapi yang terjadi, memasuki TPS kali ini mirip dengan memasuki ruang ujian dengan persiapan belajar yang amat minim. Keringat dingin. Otot lunglai. Seperti monyet kena sumpit, karena amat terbatas pengetahuan saya tentang para calon legislator.

Akhirnya, yang terjadi adalah Skenario C, yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Seraya berdoa kepadaNya, saya renungkan sekali lagi. Sreet! Pena pun digariskan….hanya pada nama partai, tanpa nama wakil.

Saya keluar bilik suara dengan keringat bercucuran. Tak berani menatap mata kawan sejawat.

Istri saya mendampingi pulang. Menyangka sakit jantung atau darah tinggi saya kumat. Barangkali karena saya pucat pasi.

Pulang ke rumah langsung tenggelam ke dalam selimut seraya menyalakan pendingin ruang dengan suhu minimal. Di bawah selimut, hati saya merintih: “Wahai mulut yang terlalu banyak bicara demokrasi dan cinta tanah air. Wahai dada yang selalu menggelegak menggelorakan semangat perubahan. Wahai mata yang tak pernah henti menelisik cacat cela urusan segala. Wahai telinga yang tak cukup terlatih untuk mendengar kearifan kerumunan….sejak sekarang belajarlah buat pemilu legislatif lima tahun yang akan datang.”

Ketika pena menulis kritik “calon legislatif gagal menemukan cara cerdas untuk dikenang”, maka hati pun berbisik “jangan belajar memahami mereka dalam semalam.” [Djuhendi Tadjudin]. 

Entry filed under: Inspirasi, Opini. Tags: , , , , .

TEMU BISNIS WARUNG TENDA SAYA TAK MIKIR MENANG, TAPI…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

April 2009
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: