DEMOKRASI MENURUT SOPIR TAKSI

April 7, 2009 at 3:06 pm Tinggalkan komentar

Taksi itu saya peroleh secara acak. Begitu turun dari pesawat di Bandara Selaparang, Mataram, saya memesan taksi. Perjalanan dari bandara ke hotel tidak lebih dari 16 menit.

Saya memuji kota Mataram, yang masih memperhatikan pohon pelindung jalan. Kota lama ditanami mahoni, kenari, dan pohon asam. Kota-kota yang lebih baru, umumnya ditanami angsana. Beberapa tempat juga ditanami mahoni dan tanjung.

Tapi saya juga bilang, Mataram termasuk yang ‘rakus tanah’. Perkembangan kotanya menghabiskan sawah-sawah kelas satu di NTB. “Apakah kita akan makan batu kelak, kalau sawah sudah berubah jadi hutan beton?”

Secara mengejutkan, sang Sopir Taksi menjawab tangkas. Selanjutnya terjadi monolog. Beliau jadi pembicara, saya pendengar. Sesekali saya lontarkan probhing seperlunya.

“Itu bukan salah orang. Tapi salah sistemnya,” katanya membuka rentetan opini yang mengejutkan.

Kita telah terjebak ke dalam demokrasi yang tidak berjiwa dan tidak berhati. Kita terseret aurs reformasi tanpa haluan.

“Coba sebutkan satu saja caleg-caleg yang terpampang dalam poster dan baliho, yang telah membuat karya nyata di lingkungan kita? Mereka itu orang-orang tidak tahu malu. Pasang gambar besar-besar, lantang bikin janji, minta kita pilih dia. Kenal pun kita tidak?”

“Jangan-jangan, di RT-nya pun mereka tak pernah aktif. Sekarang apa urusannya jika tiba-tiba mereka minta kita untuk menjadikannya wakil kita di DPR?”

“Bukankah memang begitu semuanya?” saya mencoba menyela.

“Benar. Makanya saya bilang bukan salah orangnya. Tapi salah sistemnya. Demokrasi yang kita jalankan itu salah sistem,” katanya berapi-api.

“Seharusnya ada jenjang bakti nyata. Orang terbaik di RT-nya, bersaing di tingkat RW. Begitu seterusnya. Sehingga, siapa pun yang terpilih, pasti adalah orang-orang yang punya akar ‘karya nyata’ di daerahnya.”

“Yang terjadi sekarang, ‘curi nama’ pun dilakukannya. Anak pasang foto bapaknya yang sudah dikenal masyarakat. Malah ada yang pasang foto kakeknya, karena kakeknya itu ulama besar. Di Jakarta saya dengar ada yang pasang foto anaknya, karena anaknya itu artis terkenal. Wakil rakyat macam apa itu, membujuk pemilih dengan jasa-jasa dan nama besar orang lain?”, katanya berang. Urat lehernya meregang, seperti mau melompat meninggalkan lehernya.

“Coba Pak,” katanya dengan suara lebih lembut, “…jika biaya kampanye mereka itu digunakan untuk berkarya-nyata, pasti akan banyak manfaatnya. Kalau sekarang, uang berhambur tidak ada gunanya.”

“Ngeri saya melihatnya. Kalau gampang saja mereka keluar uang untuk kampanye,” katanya nyaris tidak terdengar, “…pasti gampang pula mereka sabet kiri-kanan untuk memperoleh gantinya.”

“Bapak tidak takut saya tidak sepaham dengan Bapak?” kata saya dengan nada bersahabat.

“Tidak, Bapak. Taksi saya itu ‘negara’ paling merdeka. Jika Bapak tak suka dengar saya bicara, bapak boleh kasih saya berhenti bicara.”

“Baik, terimakasih,” kata saya ketika turun di depan hotel seraya memberikan uang tips alakadarnya. “Akan nyontreng tanggal sembilan nanti?”

“Insyaallah saya nyontreng. Mungkin mereka buruk semua. Tapi saya akan berusaha pilih yang relatif lebih baik di antara yang buruk-buruk itu.”

Kami berpisah. Dalam hati saya berseru, “Seandainya gambar Anda ada di kertas suara, akan saya contreng Anda, Pak!” [Djuhendi Tadjudin].

Entry filed under: Opini. Tags: , , , , .

BERGUNJING MIMPI TUKANG TERASI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

April 2009
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: