PEMBIARAN: KEJAHATAN PELAYAN PUBLIK

April 5, 2009 at 9:53 am Tinggalkan komentar

Pemerintah itu personifikasi negara. Ia punya otoritas untuk mengelola negara dengan baik. Mengelola good governance, agar memberikan kemakmuran sebesar-besarnya untuk rakyat. Dengan harapan, tercapai harkat warga negara setinggi-tingginya.

Mandat itu begitu besarnya, sampai-sampai ia punya wewenang untuk ‘memaksa’ agar rakyat patuh pada peraturan. Kalau ada rakyat bodoh, pemerintah harus mengedukasi. Kalau ada rakyat miskin, pemerintah sediakan lapangan kerja. Kalau ada ketimpangan, pemerintah mengatur mekanisme redistribusi kemakmuran. Kalau ada rakyat yang bengal, pemerintah melakukan penegakan hukum.

Dalam kerangka logika di atas, segala pelayanan publik menjadi tanggung-jawab pemerintah. Dan dengan demikian, rakyat tak pernah bisa dipersalahkan sebagai sebab utama (prima causa) untuk sebuah ‘kejahatan’ publik.

Kalau marak kejahatan dengan kekerasan, pemerintah yang salah. Kenapa tidak bisa menjaga keamanan dan ketertiban. Kenapa tidak bisa memberantas peredaran senjata. Kenapa penjahat ‘dibiarkan’ petantang-petenteng.

Kalau ada pemakai narkoba, pemerintah yang salah. Kenapa tidak mampu membekuk produsen dan bandar besar narkoba. Kenapa kalah cerdas dibanding dengan pengecer narkoba. (Kalau soal korban narkoba, tidak usah ditanya. Pemerintah sudah pandai menjebloskan mereka ke penjara. Beritanya terpampang di televisi besar-besar).

Sopir angkot merintih lirih, darahnya habis dihisap timer (preman yang mengatur terminal). Semua orang yang pernah masuk ke dalam terminal tahu persis praktek itu. Bahkan kecoak pun tahu. Hanya pemerintah (penegak hukum) yang tidak pernah tahu, di sana ada kejahatan.

Timer menjadi orang paling gagah di sana. Bukan sungguh-sungguh gagah. Melainkan karena dalam collective memory masyarakat, preman-preman itu memang sengaja ‘dibiarkan’ oleh penegak hukum. Kadang masyarakat saling berbisik, mereka itu memang sengaja ‘dipelihara’. Karena itu masyarakat ‘takut’ kepada preman.

Ketika rakyat bangun kios rokok di atas trotoar, ia pasti salah. Tapi menjadi tidak ‘keliru’ tatkala itu dibiarkan tanpa ada proses edukasi dan penegakan hukum. Karena itu, ‘langkah berani’ penjual rokok itu diikuti dengan tukang tambal ban, tukang jual minuman, warung tegal, dan sebagainya. Akhirnya sepanjang trotoar penuh dengan kios-kios liar yang ‘dibiarkan’ tumbuh. Bahkan tempat penghentian bus pun, yang fungsi awalnya adalah tempat penumpang menunggu bus dan angkot lewat, telah sesak oleh penjual segala barang kelontong.

Ketika trotoar sudah penuh, pemerintah dengan ‘gagah-gagahan’ mengirim centengnya (Satpol PP) untuk membongkar kios-kios liar itu. Mirip gaya centeng kumpeni. Tangis rakyat miskin tidak dipedulikannya. Sebagian kios-kios itu dirobohkan. Sebagian malah diangkut truk, dengan barang dagangannya.

Pemerintah telah salah. Kenapa tidak melakukan penegakan hukum ketika baru satu pedagang rokok yang berjualan di sana. Kalau itu dilakukan, tak akan ada rakyat yang cukup berani untuk jualan di atas trotoar. Kalau ada tindakan tegas sejak dini, kerugian rakyat tidak akan sebesar itu. Bukankah rakyat bangun kios (yang disebut ‘liar’ itu) juga membutuhkan biaya? Bukankah makin banyak kios yang dibongkar, makin banyak pula modal rakyat yang terbuang percuma? Bukantah kalau tak mampu kasih rakyat makan, jangan hancurkan periuk nasi mereka?

Kini Anda boleh menyebut sebarang bidang, di sebarang tempat, pada sebarang waktu. Maka akan Anda peroleh kasus-kasus seperti cerita di atas. Benang merahnya: Pemerintah telah melakukan ‘pembiaran’. Membiarkan sebagian warga negara melakukan tindakan keliru.

Dan pembiaran itu adalah sebuah bad governance. Sebuah ‘kejahatan’ pelayan publik. [Djuhendi Tadjudin]

Entry filed under: Opini, Perubahan. Tags: , , , , , .

PERTEMUAN NASIONAL KKMB BERGUNJING

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

April 2009
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: