PETANI GUGAT

April 3, 2009 at 11:46 am Tinggalkan komentar

“Menanam padi itu gampang. Bapak-moyang kami yang mengajarinya,” kata seorang petani. “Yang susah itu nasibnya. Waktu tanam, pupuk menghilang. Waktu panen harga gabah jatuh,” kata petani lain.

Sambil lalu mereka juga bilang, “…memang, dari dulu pemerintah itu tidak bisa mengendalikan pedagang… Di mana-mana, ya pedagang yang ngatur.”

Itu potongan cerita petani yang disampaikan dalam FGD di Banyuresmi, Samarang, Cikajang, dan Cibatu di Garut baru-baru ini. Rangkaian FGD itu dilakukan untuk memahami logika petani padi.

Sesungguhnya cerita seperti itu bukan cuma milik petani Garut. Itu sudah jadi gambaran dasar petani di seluruh Indonesia. Posisi tawar lemah, penuh ketidak-pastian, dan tampak sendirian. (Catatan: dalam ilmu ekonomi, ketidak-pastian itu lebih menohok telak ketimbang resiko).

Meski menghadapi banyak ketidak-pastian, petani padi tetap bertahan. Bukan karena mereka punya daya tahan luar biasa; melainkan karena ketidak-pastian yang dialami petani lain (petani non padi) jauh lebih besar lagi.

Hampir semua petani padi bisa menyebutkan,”…coba tanya saja sama petani sayur di Samarang, ketidak-pastian mereka lebih tinggi. Hidupnya seperti lotre. Kalau menang, untung besar. Kalau rugi, rugi besar…” (Samarang adalah daerah dataran tinggi di Garut, di kaki Gunung Guntur).

Petani juga tahu, pupuk susah maupun harga gabah jatuh itu memang ulah pedagang. “Alaa…pemerintah boleh punya pabrik pupuk dan punya Bulog, tapi dari dulu tidak pernah bisa ngatasi pedagang,” jawab petani dengan nada meremehkan.

Bolehjadi begitu banyak program pemberdayaan petani diaplikasikan. Namun prakteknya, petani tetap merasa sendirian.

Pemerintah banyak menghampiri petani…di televisi atau surat kabar. Tapi tidak di ladang-ladang petani. Coba dengarkan gugat petani tentang subsidi pupuk. “Sebenarnya, tidak perlu lah pupuk subsidi…biarkan saja sesuai dengan harga pasar. Tapi harga gabah harus bagus seperti tahun 2005-an. Petani masih untung.” Pernyataan itu dikuatkan oleh Bapak N, pemasok pupuk yang melayani petani dari Leles sampai Cikajang, dari Samarang sampai Cibatu.

Ketika pemerintah dan para tokoh lain berdebat soal ekspor beras, para petani menertawakan. Ekspor maupun tidak ekspor, nasib mereka tetap seperti itu. Petani tidak butuh ‘mercu suar’ seperti itu. Yang mereka butuhkan adalah kebijakan yang membuat petani lebih berdaya.

Dengarkan permenungan petani ketika mereka jatuh sentimental. “Dulu, tiap panen bisa beli sekian gram emas. Sekarang tiap panen harus menggadaikan sekian gram emas.” Jadi, program gagah-gagahan ekspor beras tidak akan pernah membuat petani lebih dihargai. [Djuhendi Tadjudin]

Entry filed under: Opini. Tags: , , , , , .

MILITANSI PEMELUK AGAMA PERTEMUAN NASIONAL KKMB

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

April 2009
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: