MILITANSI PEMELUK AGAMA

April 2, 2009 at 11:13 am 2 komentar

Rabu 21.00, April 1. Beberapa menit yang lalu ada acara debat di televisi dengan tema (penulis: mohon maaf, redaksinya tidak persis seperti ini) “Mungkinkah pemimpin non muslim.” Semua nara-sumber adalah orang-orang yang saya hormati.

Biar adil menelaah pandangan berikut, saya perlu ‘buka diri’. Saya (muslim) memiliki paham, setiap muslim wajib menjalankan kehidupannya secara utuh bersandar pada syariah Islam. Itu tidak ada tawar-menawar. Ustadz Umar Thalib menggambarkan dengan jelas: “Syariah yang harus mengatur ‘keadaan’, bukan sebaliknya syariah harus tunduk pada keadaan.”

Tapi pada saat yang sama, saya sadar –suka tidak suka-  sedang hidup di negara sekuler yang disebut Indonesia. Dalam kehidupan sekuler itu, maka tiap orang yang berhimpun dalam negara bukanlah entitas agama; melainkan ‘warga negara’ –persis seperti penuturan Pendeta Nathan. Aturan main yang diakui untuk mengatur keberagaman warga negara adalah ‘hukum positif’, meski di rumah masing-masing mungkin berlaku juga tatakrama adat dan juga syariah agama.

Jika demikian, mungkinkah militansi pemeluk agama hidup dalam negara yang mengenai ‘dua kamar’ seperti itu? Jawabnya: kenapa tidak?

Pertama, dalam kehidupan negara dikenal mekanisme politik untuk menyalurkan aspirasi warga negaranya. Setiap warga negara boleh memperjuangkan agar syariah agamanya mengisi substansi konstitusi dan perundangannya.

Caranya, dirikan partai politik berbasis agama. Kemudian salurkan aspirasi melalui partai itu. Tempatkan sebanyak-banyaknya wakil rakyat di parlemen. Lantas perjuangkan syariah agama itu di dalam parlemen, sesuai dengan mekanisme politik yang berlaku.

Jika ada kelompok agama, yang merasa ‘belum berhasil’ meloloskan kaidah syariah untuk dijadikan konstitusi atau substansi sebuah hukum positif, maka duduklah dengan kepala dingin. Berhenti mencerca, sehalus apa pun cercaan itu. Itulah waktu yang tepat bagi yang bersangkutan untuk melakukan konsolidasi diri dalam lingkungan konstituennya: Kenapa gagal memperjuangkan hal itu? (Seraya menghormati aspirasi lain, yang lebih berhasil menyusupkan aspirasi-aspirasinya ke dalam pranata hukum nasional).

Kedua, pemeluk agama apa pun juga dilindungi hak-haknya untuk hidup utuh dalam syariah agama yang dianutnya. Tiap pemeluk agama, boleh menyampaikan fatwa apa pun buat pemeluk agama yang bersangkutan. Boleh menerapkan praktek kebajikan apa pun sesuai dengan syariahnya. Negara tidak bisa menghalang-halanginya. Jika perbankan yang ada tidak cocok dengan syariah (meski sudah berlabel ‘syariah’), misalnya, dirikanlah ‘Bank Syariah’ sendiri dan dukunglah bank itu.

Bagi sebagian pemeluk agama, sikap itu bolehjadi dipandang sebagai sebuah ‘sikap lemah’. Kemudian ia mengambil langkah ‘tanpa kompromi’. Bergerak secara total menegakkan syariah. Maka itu ‘boleh-boleh’ saja. Namun hukum positif harus tetap dihormati, meski itu tidak cocok dengan prinsip hidup pribadi warga negara.

Ketika aktualisasi sikap itu, (misalnya, mohon maaf) pemeluk agama tersebut mengatakan “Kelompok A kafir, Negeri ini Negeri Berhala” dan sebagainya. Lantas suatu ketika hukum positif membuktikan, tindakan itu ternyata melanggar hukum; maka yang bersangkutan harus siap menjalani proses peradilan, dan menjalani hukuman jika dinyatakan bersalah. Yang bersangkutan, meski masuk bui, misalnya, insyaallah tetap akan memperoleh ganjaran pahala dari Tuhannya, atas konsistensinya menjalankan syariahNya.

Sekarang bayangkan, yang ingin bersikap militan seperti itu adalah setiap pemeluk agama-agama yang ada. Maka betapa rumitnya kehidupan berbangsa itu. Itulah argumen kenapa kita butuh aturan yang berbasis pada kewarga-negaraan.

Apa boleh buat! Suka ataupun tidak suka! [Djuhendi Tadjudin]

Entry filed under: Opini, Perubahan. Tags: , , , , , , , , .

BELAJAR GOOD GOVERNANCE KEPADA SOPIR ANGKOT PETANI GUGAT

2 Komentar Add your own

  • 1. luthfi  |  April 2, 2009 pukul 12:16 pm

    memang benar bung. persoalannya para pemuluk agama tidak paham terhadap arti sebuah kemajemukan sebuah negara. militansi para penganut agama saya kira perlu tapi bagaimana menghargai antar sesama para pemeluk agama. itu yang tidak tertanam pada diri pemeluk agama. seandainya itu tertanam saya yakin tidak akan saling menjelekkan antar sesama.saya juga nonton program itu bung.

    oia bung salam kenal…..

    Balas
    • 2. Djuhendi Tadjudin  |  April 2, 2009 pukul 12:23 pm

      Ya. Saya senang berkenalan dengan Anda. Mari kita menjadi pendorong harmoni dalam kemajemukan. Mari kita jadi teman diskusi!

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

April 2009
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: