BELAJAR GOOD GOVERNANCE KEPADA SOPIR ANGKOT

April 1, 2009 at 10:41 am Tinggalkan komentar

Sebuah angkot menyalip sedan dari kanan. Tiba-tiba menikung ke kiri, dan mendadak berhenti tepat di depan sedan itu. Dari dalam sedan itu keluar seorang wanita cantik berdandan rapi. Ia tidak bisa menyembunyikan amarahnya. Dengan nada nyaring, keluarlah caci-maki (yang tidak secantik orangnya). Sopir angkot berusaha keras meminta maaf sambil ‘menggulung’ badannya dan mengacung-acungkan tangannya di depan dadanya. Tapi tidak meredakan amarah wanita itu.

Akhirnya, wanita itu berhenti juga mencaci. Mungkin karena amarahnya telah terlampiaskan. Atau karena sengatan matahari sudah mulai tidak tertahankan.

Peristiwa itu kerap terjadi, dengan berbagai varian. Temanya selalu sama. Sopir angkot yang selalu tergesa-gesa, membelok semaunya, berhenti seenaknya. Itu cerita biasa-biasa saja.

Yang luar biasa adalah kearifan seorang sopir angkot. Ia duduk minum kopi di warung pinggir jalan sambil menunggu antrian angkotnya yang sedang ngetem tidak jauh dari tempat kejadian.

“Sesungguhnya sifat dasar sopir angkot itu tidak berangasan seperti itu. Sama dengan manusia lainnya. Ada yang sabar, ada yang pemarah,” katanya.

“Setoran mahal, bensin mahal, penumpang kurang,” katanya, “…makanya tiap sopir main sabet saja buat nyari setoran.”

“Apakah karena jumlah angkot yang beroperasi sudah kebanyakan?”

“Ya itulah biang penyakitnya.” Sopir itu duduk merenung. Agaknya ada soal serius yang sedang dipikirkannya.

“Rakyat ini butuh makan. Karena tahunya hanya main angkot, maka maunya rakyat cuma minta tambahan ijin trayek.” “Tak ada lagi kerja yang bisa kita jalani. Hanya angkot itulah kepandaian kami.”

“Minta ijin itu memang hak kami. Hak rakyat. Apalagi yang bisa kami minta, kecuali ijin itulah…”

“Tapi pemerintah harus pandai-pandailah kasih ijin. Mereka kan pandai berhitung. Berapa jumlah angkot yang diperlukan. Kalau jumlah itu sudah tercapai, jangan lagi kasih ijin trayek kepada lainnya.”

“Akibatnya kita jadi susah semua. Tak ada satu pun juga sopir dan pemilik angkot yang makmur sekarang ini. Semuanya dapat uang pas-pasan.”

“Apalagi sopir. Kalau tidak narik sehari, maka tak makanlah besok harinya.”

“Kalau jumlah angkot dibatasi. Jumlahnya diperhitungkan benar-benar. Maka semua sopir dan pemilik angkot akan dapat uang cukup. Istilahnya, masih ada untung kita hari ini, malah ada sedikit lebih untuk sehari dua. Seperti penghasilan sopir jaman dululah.”

Sopir itu berteori: jumlah angkot sudah kebanyakan. Karena itu semua pelaku bisnis angkot (pemilik maupun sopir) akan menjalankan bisnisnya pada skala yang tidak ekonomik. Menurut sopir angkot kita itu, seharusnya pemerintah yang mengatur agar angkot yang beredar di jalanan itu berimbang dengan jumlah penumpang. [Djuhendi Tadjudin]

Entry filed under: Inspirasi, Opini. Tags: , , , .

ALAM GUGAT MILITANSI PEMELUK AGAMA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

April 2009
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: