CSR OTORITA ASAHAN DI KABUPATEN ASAHAN

Maret 28, 2009 at 10:58 am Tinggalkan komentar

Jangan pernah meremehkan siapa pun untuk urusan perubahan. Itu pengalaman nyata bekerjasama dengan Otorita Asahan (OA).

Otorita Asahan sudah bertahun-tahun menerapkan CSR di kabupaten-kabupaten seputar Danau Toba dan Sungai Asahan. Ketika itu, CSR bagi OA adalah sebuah charity (derma). OA berikan ‘nyaris apa pun’ yang diminta masyarakat. Sebuah format CSR yang paling tradisional.

Padahal pengalaman empirik menunjukkan, sebuah derma jarang bisa memberdayakan masyarakat. Derma tidak adaptif dengan proses penumbuhan rasa-memiliki dan semangat untuk mengelola ‘derma’ itu untuk menjadi aset yang produktif secara berkelanjutan.

Kemarin, Jumat 27 Maret 2009, diskusi “Disain Pemberdayaan Masyarakat” di OA berjalan hangat. Banyak butir-butir disain yang disepakati oleh pemrakarsa (OA). Pertama, OA menyepakati bahwa CSR pada masa yang akan datang akan disalurkan dengan cara yang lebih edukatif. Akan disalurkan sebagai sebuah corporate citizenship. CSR akan masuk pada sektor yang paling dibutuhkan masyarakat, dengan cara yang paling memberdayakan.

Kedua, ada sebuah kesadaran untuk menghargai potensi keberdayaan masyarakat. Bahwa setiap kelompok masyarakat dan juga setiap sektor ekonomi itu memiliki tingkat keberdayaan yang berbeda. Karena itu, OA sepakat untuk menyalurkan CSR dengan modus yang paling adaptif dengan masyarakat penerimanya. Nelayan penangkap udang di sungai, misalnya, merupakan kelompok nelayan yang paling rapuh. Karena itu, CSR bagi mereka itu (penyediaan sampan sudu itik) diberikan sebagai hibah. CSR untuk nelayan yang memiliki aktifitas ekonomi yang lebih ‘kuat’, yaitu kelompok nelayan operator kapal 3-5 GT, disalurkan sebagai sebuah ‘kredit tanpa bunga’. Kredi itu untuk pengadaan jaring maupun kapal. Sementara itu, kelompoktani padi dapat memperoleh traktor tangan dengan cara leasing berbunga amat rendah (4% per tahun).

Ketiga, tumbuh sebuah kesadaran bahwa fokus program pemberdayaan masyarakat itu adalah sebuah perubahan sikap. Dan perubahan sikap itu bisa terjadi dalam kurun waktu yang panjang, yang . Kadang perubahan itu harus difasilitasi pihak luar (tidak terjadi hanya mengandalkan inisiatif masyarakat itu sendiri). Karena itu OA menyepakati pentingnya fasilitator lapang, yang akan mengawal proses pemberdayaan masyarakat.

Hari itu, OA yang dikenal sebagai lembaga yang memiliki birokrasi yang amat kaku, ternyata bisa bersikap amat luwes. Lembaga itu tanpa ragu-ragu berani membuat ‘langkah pertama’ untuk mendorong proses-proses perubahan yang adaptif, khususnya masyarakat di Kabupaten Asahan.

Intinya, jangan pernah meremehkan siapa pun. Bahkan lembaga yang amat kaku sekali pun, ternyata bisa lekas siap untuk membuat terobosan dan mendorong proses perubahan. [Djuhendi Tadjudin]

Entry filed under: ACARA. Tags: , , , , .

BUKAN BLT TEMU PENGOLAH DENGAN PENJUAL DI YOGYA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Maret 2009
S S R K J S M
    Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: