BUKAN BLT

Maret 27, 2009 at 8:19 am 4 komentar

Bantuan Langsung Tunai (BLT) terkenal ketika pemerintah menaikkan harga BBM. Dengan menaikkan BBM, nilai subsidi menjadi rendah. “Karena itu, pemerintah mengalokasikan penghematan subsidi itu untuk menopang biaya hidup kelompok masyarakat termiskin,” kata pemerintah ketika itu.

BLT kini kerap didengungkan kembali. Ia dipakai untuk tebar pesona agar rakyat memilih dirinya dalam pesta pemilu yang segera akan digelar.

Dalam jangka pendek, BLT tampak manusiawi. Tapi dalam jangka panjang, kebijakan itu amat buruk. Pertama, meminjam istilah ilmu kedokteran, BLT itu identik dengan masking. Sebuah perlakuan yang seolah menyembuhkan sebuah penyakit, namun sesungguhnya hanya meredam gejalanya tanpa efek penyembuhan. Dalam bahasa sehari-hari, masking itu bisa diterjemahkan sebagai sebuah tipu-daya.

Masyarakat kini sedang terpuruk. Daya belinya merosot. Karena kian banyak yang tidak memperoleh akses ekonomi produktif. Kian banyak yang tidak memperoleh lapangan kerja yang pantas. Kian banyak yang bekerja di bawah kapasitasnya. Karena kondisi perekonomian tidak ramah kepada mereka.

Situasi itu menumbuhkan ‘borok’ dalam masyarakat. Bisa berupa kelaparan. Putus sekolah. Perumahan tidak layak huni.

Mestinya borok itu cepat terungkap. Dan dengan demikian, semua orang akan tahu ada sesuatu yang buruk sedang terjadi. Ada praktek kebijakan publik yang tidak berpihak kepada masyarakat termiskin.

Namun dengan adanya BLT, borok itu sesaat akan ‘tertutupi’. Sehingga orang-orang tidak lagi melihat ada sebuah borok.

Padahal, sebaiknya ‘borok’ itu lekas terungkap. Biarkan masyarakat tahu, memang ada borok di sekitar mereka. Dengan begitu, mereka tidak kehilangan sikap kritis untuk ‘mengingatkan’ pemerintah. Dan lebih dari segalanya, akan menggugah kepedulian sosial masyarakat berpunya, agar bersedia menyisihkan sebagian kesempatan ekonominya untuk dieksplorasi oleh masyarakat termiskin.

Kedua, uang tunai di tangan orang yang tidak punya ide dan kesempatan produktif, hanya akan menjadi penopang sikap konsumtif. BLT bukan cuma tidak menumbuhkan ekonomi produktif. Ia malah akan mendorong sikap konsumtif masyarakat. Ia menyuburkan sikap menggantungkan diri pada belas kasihan pemerintah dan orang lain.

Setiap kali ada kesulitan, ia berharap ada orang lain yang menyantuninya. Maka tumbuhlah jiwa-jiwa pengemis.

Itulah agaknya, pemerintah Inggris pada masa depresi selepas perang dunia kedua, tidak menerapkan kebijakan BLT. Pemerintah Inggris ketika itu justru menyediakan lapangan pekerjaan ‘bayangan’.

Pemerintah mengupah sekelompok masyarakat untuk menggali saluran sepanjang jalan. Kemudian mengupah kelompok lainnya untuk menutup saluran itu. Dan, sungguh, tidak ada apa pun yang ditimbun dalam saluran itu. Pemerintah benar-benar hanya menyediakan lapanan kerja produktif dengan cara yang edukatif. [Djuhendi Tadjudin] 

Entry filed under: Opini. Tags: , , , .

BERANGKAT DARI IMPIAN CSR OTORITA ASAHAN DI KABUPATEN ASAHAN

4 Komentar Add your own

  • 1. Joko Waluyo  |  Maret 27, 2009 pukul 12:09 pm

    Ada cerita menarik soal BLT ini dari perbatasan Kalbar. Untuk mengambil uang BLT, mereka yang tinggal di kampung-kampung pedalaman melakukannya secara kolektif, maklum jarak antara kampung dengan kantor pos cukup jauh dan membutuhkan biaya transportasi yang mahal.

    Namun, belakangan ide pencairan BLT kolektif ini justru diprotes para sopir ojek. Karena dengan pencairan BLT secara kolektif, penghasilan para pengojek menurun drastis.

    He he he, aya-aya wae

    Balas
    • 2. djuhendi70  |  Maret 27, 2009 pukul 2:54 pm

      Iya ya, aya-aya wae. “Urusan hati” seperti itulah yang tidak pernah selesai di negeri ini.

      Balas
  • 3. Edy Suryadi  |  Maret 27, 2009 pukul 12:11 pm

    Saya terkesan sekali dg tokoh si Udin dalam tulisan tsb. Saya mengenal betul orang tersebut, cerdas, tegas, kharismatik, dan yang gak kalah pentingnya beliau galak, ha..ha..ha….

    Balas
    • 4. djuhendi70  |  Maret 27, 2009 pukul 2:55 pm

      Ya ya, galak tapi baik benar.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Maret 2009
S S R K J S M
    Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: