BERANGKAT DARI IMPIAN

Maret 26, 2009 at 11:02 am Tinggalkan komentar

Udin pemuda dusun. Meski cerdas, tapi hanya sekolah sampai kelas tiga SR. Tidak juga masuk pesantren. Kemiskinan telah menendangnya keluar dari bangku sekolah, meski dirinya masih ingin tetap di sana.

Pada umur 10 tahun, ia sudah biasa memanggul kayu bakar. Dijual ke kota yang jaraknya sembilan kilo dari kampungnya. Sekali menjual kayu bakar, cukup untuk makan tiga hari.

Umur 15 tahun telah berbisnis. Menjadi tukang kredit. Keluar masuk kampung menjajakan barang pecah belah.

Kerja itu dilakukannya siang hari. Pagi dan sore hari dimanfaakannya untuk santai di rumah. Kadang duduk santai memandang orang yang lalu-lalang di depan rumah kontrakannya. Ada pedagang, ada juga pegawai, yang melintas tergesa.

Penampilan pegawai amat memikat hatinya. “Lihatlah, pegawai pemerintah itu,” kata Udin kepada kawan sekontrakannya. “Pulang sore masih secantik saat berangkat pagi hari,” katanya seperti tengah bergumam pada diri sendiri.

“Memang,” katanya lirih, “…hanya sekolahlah yang akan mengubah nasib orang menjadi jauh lebih baik.”

Temannya tersenyum penuh pengertian. Paham benar, Si Udin tidak pernah ikhlas keluar dari bangku sekolah.

“Kalau saya menikah kelak…,” ikrarnya tiba-tiba, dengan suara gemeletar, “…saya hanya akan menikahi wanita yang mengijinkan saya untuk menyekolahkan anak tinggi-tinggi.”

“Iya Din. Saya doakan. Semoga niat sucimu dikabul Allah,” kata temannya menghibur.

Pada saatnya ia sunting gadis desa untuk jadi istrinya, tidak lupa dikemukakannya sebuah ‘perjanjian pra nikah’. “Ikhlaskah kamu, kalau rejeki yang kita dapat, kita gunakan untuk menyekolahkan anak-anak kita?” katanya sungguh-sungguh. Dan ikrar seperti itu tetap merupakan doktrin keluarga yang senantiasa diucapkannya sampai anaknya lahir delapan orang.

Bisnisnya ketika itu sudah meningkat. Menjadi pengusaha sebuah industri kecil. Penghasilannya lebih dari lumayan. Tidak tergolong miskin di lingkungannya. Termasuk kaya malah, meski bukan yang paling kaya.

“Kalau bapak wariskan harta kepada kalian, harta itu pasti akan habis. Tapi kalau bapak wariskan ilmu, maka ilmu itu akan memuliakan hidup kalian,” begitu nasihatnya selalu kepada anak-anaknya.

Berangkat dari impian itu, Udin benar-benar berhasil mengantarkan seluruh anak-anaknya menempuh pendidikan tinggi. Semuanya mengenyam bangku perguruan tinggi. Malah ada yang sampai tingkat doktoral.

Pada masa tuanya, Udin kerap ngobrol dengan anak-anaknya. Apa pun topik pembicaraannya, kerap diakhiri dengan…“Bapak yakin keputusan Bapak itu benar. Menyediakan pendidikan yang baik buat kalian itu sebuah keputusan yang bijaksana. Jauh lebih baik ketimbang mewariskan harta berlimpah,” katanya. Ada nada bangga dalam geletar suaranya.

Dan anak-anaknya mengiyakan. Memang benar seperti itu! [Djuhendi Tadjudin] 

Entry filed under: Inspirasi, Perubahan. Tags: , , , , , .

RINDU PADI BENGAWAN BUKAN BLT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Maret 2009
S S R K J S M
    Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: