BISNIS RAKYAT DI MALANG

Maret 24, 2009 at 1:20 pm 2 komentar

Kejayaan kota Malang sebagai kota apel pernah nyaris runtuh. Pangsa pasarnya dicaplok buah-buahan impor. Apel dan buah pir impor menendang apel Malang dari rak-rak super-market bergengsi di kota-kota besar. Bahkan apel Malang tidak memperoleh tempat yang berharga di kios-kios kakilima hampir di setiap kota.

Untung saja, kota ini tidak pernah kehilangan semangat. Selalu ada wirausahawan yang membangkitkan kembali bisnis yang banyak melibatkan petani apel, yang tersebar di dataran tinggi seputar Kota Batu.

Awal 1990-an, diilhami dengan Mekarsari di Jakarta, seorang pengusaha membuka kawasan agro-wisata di Kota Batu. Pengunjung pun boleh memanen sendiri buah apel yang mereka sukai.

Sang Pengusaha amat kreatif. Memanfaatkan kunjungan ke kawasan agro-wisatanya, ia jajakan pula produk apel olahan. Masyarakat mulai mengenal kripik apel dan juice apel. Maka derajat apel Malang pun menggeliat kembali.

Namun itu tidak cukup untuk mengangkat bisnis apel milik petani. Produk apel yang terserap industri pengolahan masih amat terbatas.

Mas Mulyo, seorang sarjana teknologi pangan tinggal di Malang, melihat persoalan itu. Petani ingin menjual apelnya. Masyarakat perkotaan butuh lapangan kerja. Permintaan terhadap produk olahan apel cukup besar, karena Malang kian tumbuh sebagai kota wisata.

“Tapi kenapa faktor-faktor itu tidak ketemu?” pikir Mas Mulyo suatu ketika. “Kenapa supply dan demand tidak ketemu?”

Pengalamannya ketika aktif di LSM memberikan pemahaman yang baik kepada Mas Mulyo tentang nilai penting jaringan. Juga menumbuhkan sebuah keyakinan, bahwa ekonomi rakyat bisa tumbuh besar dan sehat. Karena rakyat punya kekuatan, asal mereka bisa salurkan energi-sosialnya secara tepat. “Bukankah usaha rakyat (Credit Union) di Kalimantan Barat bisa tumbuh sehat sampai-sampai memiliki likuiditas yang luar biasa besar,” pikirnya.

Jaringan. Itu jawabnya. Jaringan pemasaran maupun jaringan ‘saling-bina’ antar pelaku bisnis rakyat. Dalam bahasa ‘mereka’ sendiri, jaringan itu disebut silaturahim.

Dengan memelihara jaringan, Mas Mulyo memulai bisnis. Bekerja bersama rakyat. Silaturahim dijalankan nyaris setiap hari. Semangat ditebarkan ke arah segala. Intinya menegaskan, rakyat itu bisa bekerja dalam dunia bisnis yang kompetitif. Kuncinya, pelaku bisnis harus: (i) Efisien dalam setiap tahapan bisnisnya; (ii) Bisa menjaga mutu tinggi secara konsisten; (iii) Menyajikan produk dalam kemasan yang sehat dan memikat; dan (iv) Memiliki militansi untuk memasarkan produk yang dihasilkan oleh rakyat.

Kini ratusan bisnis rakyat telah berhimpun dalam jaringan bisnisnya. Setiap orang memberdayakan dirinya sendiri melalui penumbuhan marjin perdagangan yang rasional. Yang berhimpun pun bukan hanya pengolah buah-buahan saja. Pengrajin tempe, pembuat kripik sukun, pembuat rempeyek teri, dan sebagainya ikut berhimpun.

Gerai toko dibuka di titik-titik strategis. Gerainya hanya menjual produk yang dihasilkan oleh bisnis rakyat. Tidak ada produk industri besar.

Hasilnya sungguh luar biasa. “Kini, bisnis kami sudah lebih besar dibanding dengan mereka (baca: industri besar),” katanya.  “Kami sudah jadi nomor satu di Malang Raya (maksudnya: Kota Malang, Kota Batu, dan Kabupaten Malang).”

Inilah bukti empirik. Bisnis rakyat ternyata bisa tumbuh besar dan sehat. Mereka punya kecakapan berstandar ‘industri’. Rakyat bukan masyarakat terbelakang.

Gelombang seperti itu, akan terus tumbuh di segala tempat. Cerita dari Malang ini hanya salah satu titik mulai. [Djuhendi Tadjudin]

Entry filed under: Inspirasi, Opini. Tags: , , , , , .

PEMISKINAN PEDESAAN RINDU PADI BENGAWAN

2 Komentar Add your own

  • 1. cecilia vita  |  Maret 25, 2009 pukul 3:55 am

    ide yang luar biasa, biasa keluar dari orang yang tidak biasa..
    sukses ya kang..

    Balas
    • 2. djuhendi70  |  Maret 25, 2009 pukul 11:51 am

      Iya. Saya berharap jutaan pengusaha kecil di negeri ini bisa menggeliat seperti di Malang. Trims

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Maret 2009
S S R K J S M
    Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: