PEMISKINAN PEDESAAN

Maret 23, 2009 at 4:29 am 4 komentar

Haji Hub adalah ajengan sebuah pesantren besar di Cianjur Jawa Barat. Kakeknya, yang adalah pendiri pesantren yang dipimpinnya, punya tanah tidak kurang dari 50 ha. Hidupnya makmur. Hasil tani tidak termakan sendiri. Semuanya amat berlebih. Berkah tani pun menetes kepada para jamaahnya.

Bapaknya, yang membesarkan nama-harum pesantrennya, dapat tanah warisan sekitar 8 ha. Setelah berjuang di tengah kegiatan pendidikan dan dakwahnya, tanahnya berkembang menjadi sekitar 15 ha. Itu yang diwariskannya kepada delapan anak-anaknya.

Kini Haji Hub, 42 tahun, punya tanah waris sekitar 2 ha. Kegiatannya adalah menyelenggarakan pendidikan di pesantren dan berdakwah. Pola pertanian yang dikembangkannya relatif sama dengan yang dijalankan oleh kakek dan bapaknya. Ada perbedaan sedikit, batang bambu —yang pada masa kakek dan bapaknya tidak pernah menjadi barang ekonomi, kini telah menjadi komoditi, dan tentu saja, bisa menghasilkan uang. Meski demikian, Haji Hub tidak mampu memperluas lahannya. Lahan miliknya tetap 2 ha, persis sama dengan harta warisnya.

Haji Hub merasakan perbedaan yang luar biasa, antara jaman bapak dan kakeknya dengan jamannya sekarang. Berdasarkan jangkauan akal manusia, beliau tidak tahu bagaimana cara anak-anaknya kelak mencukupi hidupnya kelak. Sekarang saja, hidup sudah terasa amat susah. Jangankan untuk berinvestasi memperluas lahan usaha, untuk menutup kebutuhan sehari-hari saja sudah luar biasa susah.

Sering terlintas dalam pikiran Haji Hub, apa yang bisa diandalkan oleh anak-anaknya, yang berjumlah 10 orang, kelak kemudian hari? Bila lahannya diwariskan secara merata, seorang hanya akan menerima harta waris seluas 2,000 m2. Ya, hanya 0.2 ha saja!

Haji Hub yang merasakan perbedaan ‘kemakmuran’ hidup sebagai cucu di bawah asuhan kakek yang punya lahan seluas 50 ha, atau sebagai putra ajengan dengan luas lahan 15 ha; dibandingkan dengan hidupnya yang hanya ditopang lahan seluas 2 ha. Beliau tidak pernah berani membayangkan kehidupan keluarga anak-anaknya kelak yang hanya ditopang dengan lahan seluas 0.2 ha saja?

“Memang Allah Maha Pemurah,” katanya ketika disampaikan sebuah fakta, bahwa sejak lebih dari 20 tahun yang lalu sebagian besar petani di Jawa Barat hanya punya tanah kurang dari 0.2 ha. Tapi pasrah-diri seperti itu tidak pernah bisa menampik fakta: bahwa seorang cucu dari seorang kakek yang kaya-raya, ternyata bisa menjadi bapak yang miskin.

Pengalaman hidup Haji Hub, adalah gambaran hidup masyarakat desa. Dalam waktu yang amat singkat, bisa terjadi penggerusan sumberdaya ekonomi. Masyarakat desa mengalami proses pemiskinan yang teramat pesat. Karena itu, sebagian besar dari mereka, tidak siap menghadapinya. [Djuhendi Tadjudin]

Entry filed under: Inspirasi, Opini. Tags: , , , .

KAMPANYE DI MAMBORO BISNIS RAKYAT DI MALANG

4 Komentar Add your own

  • 1. haryadhi  |  Maret 23, 2009 pukul 5:59 am

    memang sulit kalo mengandalkan kemapanan hidup cuma dari warisan…

    coba dirubah sudut pandangnya,
    karena seorang petani miskin saja, dengan segenap usahanya, bisa memiliki anak yang cerdas dan tekun, sehingga kelak bisa mengeyam pendidikan tinggi dengan beasiswa, kemudian hidup sukses di kota…

    Balas
    • 2. djuhendi70  |  Maret 23, 2009 pukul 6:08 am

      Petani memang perlu mengubah cara-pandangnya: dari produksi berbasis lahan menjadi berbasis “non lahan”. Cuma dalam hampir setiap kasus, petani tidak bisa mengubah dirinya secara cepat. Perlu kolaborasi banyak pihak.

      Balas
  • 3. haryadhi  |  Maret 24, 2009 pukul 6:07 pm

    Memang akhirnya ironisasi pun lagi-lagi muncul…
    di negeri agraris yang kaya hasil tani seperti Indonesia ini, Kesejahteraan masih belum dimiliki para pekerja tani…
    Mata air rizki berlimpah ruah mengalir di kota-kota besar, dengan dalih modernisasi dan pembangunan…
    Padahal tidak sedikit dari mereka yang mendulang sukses dari mendistribusikan hasil2 tani yang diperjuangkan oleh para pak tani di desa…
    Yah seperti kata Pak Djuhendi,
    memang negara kita masih belum menghargai stakeholder primer…
    ibarat orang yang memelihara kambing dari kecil sampai besar,
    ketika dijual, yang dapat untung lebih besar malah yang mendistribusikan kambing tersebut ke kota…

    Balas
    • 4. djuhendi70  |  Maret 24, 2009 pukul 7:01 pm

      Ini memang negeri lucu. Hampir pada semua sektor, stakeholder primer nyaris selalu tidak pernah memperoleh insentif yang sepadan. Mudah-mudahan kita bisa turut aktif menyehatkan itu semua.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Maret 2009
S S R K J S M
    Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: