KAMPANYE DI MAMBORO

Maret 22, 2009 at 10:28 am Tinggalkan komentar

Abdullah, sebut saja demikian, seorang pimpinan cabang sebuah partai politik berorientasi Islam di Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur. Ia menjadi CALEG nomor satu untuk tingkat kabupaten pada Pemilu 1999.

Di Kabupaten Sumba Barat ada tiga partai berbau Islam. Ia punya perhitungan yang unik tentang prospek partai berbau Islam di sana.

“Pemilih Islam di kabupaten ini, hanya cukup untuk satu suara. Itu pun jika salah satu partai berhasil meraih 80% atau lebih pemilih beragama Islam. Jika mereka bersaing ketat, maka tidak satu pun partai berbau Islam yang akan memperoleh kursi di DPRD Kabupaten,” analisisnya sungguh-sungguh.

Suatu ketika, Abdullah ikut dalam rombongan silaturahim ke Mamboro, sebuah desa di tengah padang rumput di sebelah utara Sumba Barat. Itu merupakan desa adat yang dipimpin oleh seorang ‘maharaja’, Umbu Saramani, yang juga lulusan SMA di bilangan Kwitang Jakarta.

Hampir semua penduduk Mamboro memeluk kepercayaan Merapu, kepercayaan yang dianut secara turun-temurun selama ratusan tahun. Penduduk beragama Islam tidak lebih dari sepuluh keluarga, yang semuanya bermukim di dekat dermaga.

Dalam adat setempat, tamu tidak diperkenankan bicara langsung dengan maharaja. Percakapan harus dilakukan melalui seorang ‘jurubicara’. Dan percakapannya pun harus dilakukan dengan saling melempar pantun dengan menggunakan bahasa setempat.

Rombongan silaturahim kami bolehjadi sedang amat beruntung. Obrolon kami berkembang menjadi sangat akrab. Bahkan kami bisa menggendong cucunya, Rambu Inek Saramani, yang masih berumur sembilan tahun.

Sang Maharaja (dan juga ratu) akhirnya berkenan bicara dalam bahasa Indonesia. Menurut pemandu kami (yang juga bertindak sebagai jurubicara), hal seperti itu tidak pernah terjadi sebelumnya.

Melihat gelagat seperti itu, Abdullah, dengan kecerdikan khas seorang politisi, melihat kesempatan emas. “Jika paduka maharaja berkenan, saya bermaksud untuk bertemu dengan rakyat paduka dua minggu ke depan. Saya ingin berdialog, apa saja yang bisa kita bikin bersama selama lima tahun ke depan,” pintanya dengan nada suara takzim tidak dibuat-buat.

Ajaibnya, Sang Maharaja berkenan. Beliau menetapkan hari pertemuan dua minggu ke depan. Beliau berjanji akan memerintahkan putera mahkotanya untuk ikut hadir dalam acara tersebut.

Acara pertemuan itu pun benar-benar terlaksana. Dan pada hari “pencoblosan” (ketika itu memilih dilakukan dengan cara mencoblos dan bukan mencontreng gambar), seluruh warga Mamboro memilih partainya.

Abdullah pun menjadi anggota legislatif kabupaten. Seumur hidupnya akan mengenang Mamboro. Suara dari sana telah menjadikannya seorang anggota legislatif. [Djuhendi Tadjudin]

Entry filed under: Inspirasi. Tags: , , , , , .

KAMPANYE DI KAYUMANIS PEMISKINAN PEDESAAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Maret 2009
S S R K J S M
    Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: