Archive for Februari 8, 2011
MENGAPA SAMPAH MENJIJIKKAN?
Dalam perjalanan ke luar kota, kita kerap membuang hajat kecil di kamar mandi umum. Lazimnya di SPBU.
Beruntung kalau kita jumpai kamar mandi yang bersih. Tapi tak jarang kita jumpai kamar mandi yang lantainya penuh pasir dan debu. Karena itu, sebelum buang hajat, kita harus menyirami lantai terlebih dahulu agar kita bisa nyaman buang hajat.
Tapi sungguh tak mudah membersihkan sampah jika itu menyangkut, misalnya, bekas bungkus kecil sampo yang teronggok di sudut kamar mandi, bercampur dengan lendir. Ia tak bisa disingkirkan dengan cara disiram. Satu-satunya cara menyingkirkannya adalah menjumputnya dan menaruhnya di tempat sampah. Tapi kita harus mengalahkan rasa jijik terlebih dahulu, yang dalam banyak kasus gagal kita lawan.
Kini, apa jadinya jika hal itu terjadi di kamar mandi rumah sendiri? Apakah masih juga timbul perasaan jijik itu? Rasanya tidak. Kita, meski dengan sedikit menggerutu, masih suka hati menjumput bungkus sampo itu dan membuangnya ke tempat sampah.
Mari kita giring terus cerita itu ke arah yang lebih pribadi. Sekarang kita sendiri yang membeli satu saset sampo dan menggunakannya di kamar mandi rumah sendiri. Kadang kita sulit membukanya, sampai-sampai kita harus menggigit sudut bungkusannya dengan gigi. Dengan gigi! Tidak terlintas rasa jijik sama sekali, meski kita sadar betul bahwa bungkus sampo itu sungguh jauh dari steril.
Sekarang tanyakan kepada ibu-ibu yang bekerja di dapur. Apakah lazim menyandingkan potongan-potongan sayur, yang akan dibuang disisihkan di talenan dan yang akan dimasak ditaruh di dalam piring? Apakah tumbuh rasa jijik? Sama sekali tidak!
Sekarang buanglah potongan sayur-sayur tua itu ke dalam tempat sampah yang ada di dapur. Sedetik kemudian punguti lagi potongan-potongan sayur itu. Apakah kita merasa patut menyandingkan potongan sampah itu dengan sayur yang akan dimasak? Rasanya tak seorang pun yang usil mencobanya.
Cerita itu menggambarkan sosok sampah. Kian jauh dari asalnya, maka ia kian menjadi sampah. Ketika di atas talenan, ia bernama potongan sayur. Tapi ketika sudah masuk ke tong sampah di dapur, sudah berubah menjadi sampah. Kian jauh jaraknya dengan sumber asalnya, maka kadar ‘kejorokannya’ pun semakin tinggi. Ketika sampah sudah bercampur aneka rupa dan jatuh di tempat yang kurang bersih, maka ia kian jorok.
Sepupu kita di Jepang, menyadari betul hal itu. Karena itu mereka selalu siapkan tong sampah yang bersih. Mereka siapkan beberapa tong untuk: logam, plastik, kertas, potongan tanaman dan sayuran, dan sisa makanan basah (seperti kepala dan usus ikan). Dari tempat asal sampai dengan pengolahan akhir, sampah-sampah itu tak pernah bercampur. Bahkan mereka punya jadwal tertentu untuk mengangkut setiap jenis sampah.
Hasilnya, “bersih” merupakan penanda umum di seluruh Jepang. Seorang turis dari Eropa ‘mengolok-olok’ kebersihan itu itu dengan mengatakan, bahwa obsesi orang Jepang terhadap kebersihan itu setingkat di bawah paranoid. Tapi, sistem itu ternyata bekerja dengan baik. Dan ampuh.
Sesungguhnya, Indonesia pasti bisa melakukan hal serupa. Karena bangsa ini, jauh di dalam hatinya, amat percaya bahwa kebersihan itu bagian dari iman. Bahwa kebersihan itu pangkal kesehatan. [Djuhendi Tadjudin] 8 Februari 2011.