MEMBANGUN KOMITMEN

Maret 31, 2009 at 10:42 am Tinggalkan komentar

[Dick Richards. 2004. The Art of Winning Commitment: 10 Ways Leaders Can Engage Minds, Hearts, and Spirits. Amacom. New York. 212 halaman + viii].

Seorang meloncat dari satu partai ke partai lainnya. Orang itu disebut sebagai ‘kutu loncat’. Julukan itu dilekatkan dengan nada ‘menyindir’, seolah ganti partai itu sebagai sebuah pengkhianatan.

“Pindah partai politik saja kok diributin. Seperti pindah agama saja,” kata sang politisi. Jawaban sang politisi itu menunjukkan bahwa ‘hal spiritual’ itu memiliki ‘bobot’ paling tinggi.

Dick Richards tidak akan pernah menyebut fenomena itu sebagai sebuah pengkhianatan. Itu justru fenomena alamiah dan sekaligus ilmiah.

Dalam bukunya, Richards menyebutkan komitmen politik sebagai tingkatan yang paling rendah. Di atasnya adalah komitmen yang dibangun oleh ranah emosional atau komitmen intelektual. Meningkat menjadi sebuah komitmen yang dibangun oleh gabungan ranah emosional dan intelektual. Yang tertinggi adalah komitmen spiritual.

Komitmen politik hanya sebuah proses pendukungan sebuah ide atau kegiatan dengan motif seadanya. Dalam sebuah organisasi, ketika seseorang menerima suatu penugasan secara mekanistik, lazimnya hanya didorong oleh komitmen politik.

Komitmen intelektual sudah melibatkan pertimbangan akal sehat. Orang setuju sebuah ide karena ide tersebut masuk akal atau berguna. Komitmen emosional sudah menyentuh aspek motivasi. Jika komitmen intelektual memberikan sebuah penyadaran bahwa ide atau gerakan itu benar atau nyata, maka komitmen emosional mendorong seseorang untuk bergerak.

Jika seseorang menganggap bahwa menjalankan ide atau gerakan itu sebagai sebuah kebajikan, maka orang itu sudah sampai pada tataran komitmen spiritual. Kelompok yang mampu membangun shared vision secara partisipatif, juga tiba pada tataran komitmen tertinggi itu.

Untuk membangun komitmen itu dibutuhkan sepuluh kompetensi. Membangun komitmen intelektual itu butuh: (i) Insight – menelaah sesuatu dengan kacamata yang berbeda; (ii) Vision – citra ideal tentang identitas dan masa depan; (iii) Storytelling – menyajikan gagasan dengan cara yang amat mengesankan; dan (iv) Mobilizing – mentransformasikan energi pada sebuah aksi.

Membangun komitmen emosional butuh: (v) Self-awareness – kesadaran yang tinggi atas potensi diri sendiri; (vi) Emotional engagement – kemampuan untuk mengalirkan perasaan-perasaan produktif antara pemimpin dan pengikutnya; (vii) Fostering hope – membangun keyakinan bahwa sesuatu (impian) itu amat mungkin untuk direalisasikan.

Membangun komitmen spiritual butuh: (viii) Rendering significance – membangun koneksi antara visi dan pemahaman pemimpin dengan tujuan bersama yang lebih konkret; (ix) Enacting beliefs – menerjemahkan tatanilai, adat, kepercayaan, dan sebagainya ke dalam aktifitas kepemimpinan; dan (x) Centering – sebuah disiplin untuk senantiasa ‘melibatkan’ ketimbang ‘meninggalkan’. [Djuhendi Tadjudin]

Entry filed under: REHAL. Tags: , , , , .

SUARA RAKYAT BUKAN SUARA TUHAN ALAM GUGAT

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Maret 2009
S S R K J S M
    Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Most Recent Posts


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: